Senin, 30 Agustus 2010

KRITIK PRAKTEK TAREKAT & TASAWUF (HABIS)

Persambungan Tasawuf Indonesia dengan Tasawuf Maroko
 
Sabtu, 24 November 2007 10:03
Rabat, NU Online
Selain kritik, hal menarik lain yang menjadi kajian Ahmad Najib Afandi dalam karya ilmiahnya adalah ia berhasil menyodorkan bukti persambungan antara Islam dan tasawuf di Indonesia dengan tasawuf di Maroko (Al-Gharb Al-Islami). Hal itu, selama ini, sering dilupakan, baik melalui hubungan guru dan murid dan hubungan budaya, juga lainnya.

Najib menulis, dikatakan oleh Ibrahim Harakat dalam bukunya "Pengantar Sejarah Ilmu di Maroko", “Bahwa setelah berdirinya Maroko di wilayah Afrika yang subur dengan ulamanya telah membuka akses mereka untuk ekspansi ke Timur (masyriq) untuk berdakwah dengan membawa karya-karya monumentalnya sehingga tersebarlah mereka di wilayah Timur sampai banyak memiliki murid".

Dengan data tersebut, Najib mengaku yakin bahwa sangat mungkin perjalanan ulama-ulama itu sampai ke Jawa terjadi setelah pertemuan mereka dengan orang Jawa di Tanah Suci, Mekah. Hal itu, katanya, dapat dibuktikan dengan banyaknya ulama yang dimakamkan di Jawa dengan nama Syeikh El Maghribi.

Sementara, bukti adanya hubungan intelektual secara langsung dengan ulama Maroko adalah banyaknya mahasiswa Indonesia yang pernah berguru kepada ulama Maroko, seperti, Syeikh Abdul Hadi (abad IX) dari kerajaan Buton yang berguru kepada Syeikh Said El Maghribi, Syech Muhamad Nafis Al-Banjari (1710-1812 M) murid dari Syeikh Abdurahman bin Abdul Aziz El Maghribi ketika di Makkah yang pendapatnya banyak dipakai oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam “Sirajutalibin”.

Najib memaparkan, sisi lain yang jelas menjadi bukti persambungan dan pengaruh tasawuf Maroko adalah karya para sufi Maroko, seperti, “Asyifa” karya Qadi Iyad, “Dalail Khaerat” karya Al-Jazuli, “Jawahirul Ma'ani dan Salawat Al-Faith” karya Attijani.

Begitu juga banyak tarekat yang didirikan oleh ulama Maroko, kini besar di Indonesia, seperti, As-Sadziliyah, Attijaniyah, Al-Ahmadiyah (Ahmad bin Idris El Maghribi [1760-1837 M]).

Bukan itu saja. Tasawuf Indonesia juga memiliki persambungan dengan Kurdi melalui Syeikh Amin Al-Kurdi dengan kitabnya "Tanwirul Qulub", dengan India melalui karya Syeikh Burhanpuri dengan karyanya "Tuhfat Al Mursalah" yang menjadi referensi awal lahirnya tasawuf falsafi di Indonesia.

Demikian juga dengan Persia melalui kitab “Syu'ab Al-Iman” karya Al-Mulaibari yang dikomentari oleh Syeikh Nawawi Al-Bantani dengan nama “Qami'ut Tughyan”.

Namun, dari sekian sumber tasawuf Indonesia itu, semuanya memiliki validitas referensi yang menjamin ke-sunah-an tasawuf Indonesia. Dengan sumber-sumber yang Islam natural itu, semestinya sudah menjamin segala praktik tasawuf dan tarekat di Indonesia tidak akan menyimpang dari syariat dan akidah. “Dan, dengan keragaman sumber itu pula, seharusnya menjadikan kuatnya kebhinekaan tasawuf dan Islam Indonesia,” pungkasnya.

Bukti lain yang menguatkan adanya hubungan Islam Indonesia dengan Maroko adalah adanya persamaan ornamen ukiran kayu (yang kaya warna) di atap di sejumlah masjid di Maroko dengan yang ada di bangunan warisan budaya Indonesia, seperti, Masjid Sunan Gunung Jati dan Masjid Said Naum, Kebon Kacang, Jakarta. Juga lainnya dengan masjid Alal Hasayan di Comro, Rabat. (Nasrullah Afandi)

0 Komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar Asal Jaga Kesopanan Religi

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda