Senin, 30 Agustus 2010

KRITIK PRAKTEK TAREKAT & TASAWUF (2)

“Jangan Cuma Berzikir Tanpa Mengerti Maknanya”
 
Jumat, 23 November 2007 16:12
Rabat, NU Online
Kritiknya terhadap praktik tarekat dan tasawuf yang kini dinilai telah menjadi lahan pencarian materi dan popularitas cukup menohok. Tetapi, Ahmad Najib Afandi, doktor keempat dari Asia Tenggara yang belajar di negeri Maghribi itu tidak berhenti sampai di situ saja.

Atas bimbingan Prof. Dr. Abdullah Murabit El Tirgi, Guru Besar dan Dekan Fakultas Bahasa Arab, Universitas Abdel Malik Esaadi Tetouan, Najib, dalam desertasinya juga menyoroti tentang pengangkatan mursyid (guru tarekat). Ia menilai, akhir-akhir ini prosesi tersebut dilakukan seperti halnya pemilihan ‘kadus’ atau kepala dusun, yang begitu mudah dan ramai diperebutkan.

Padahal, terangnya, pada Muktamar ke-VII Jam’iyah Ahlitthoriqoh Al-Muktabaroh An-Nahdliyah, di Demak, Jawa Tengah, pada 22-24 November 1989, memutuskan syarat-syarat yang rumit dan ketat, bahkan lebih ketat dari pada syarat dan ketentuan salat yang sah dan bisa diterima Allah yang ditetapkan ulama khowas (diakui keilmuannya).

“Dengan syarat salat yang lebih ringan dari pada syarat-syarat mursyid saja kita masih jarang menemukan orang yang ‘bisa’ salat, apalagi menjadi mursyid. Tapi, kenapa mereka melakukan pemilihan mursyid dengan begitu mudah, bahkan bisa dengan sistem waris?” terang Najib.

Menurut Najib, hal itulah yang kemudian ‘menjerumuskan’ orang awam untuk ‘mewalikan’ (menganggap seseorang menjadi wali) orang-orang yang memiliki kehebatan supranatural. Padahal, tandasnya, bukan itu definisi wali, apalagi kalau dianggap sebagai Rasul atau Jibril. Semua itu, tidak lain akibat kebodohannya dengan syariat.

Kondisi seperti itulah, tegasnya, yang harus segera dibenahi dalam dunia tarekat dan tasawuf dengan memperketat syarat dan mempertajam pengajaran akidah, fikih dan ahlak sebelum dan sesudah masuk tarekat. “Jangan cuma berzikir tanpa mengerti maknanya,” pungkasnya.

Tasawuf Indonesia-Maroko

Selain kritik, hal menarik lain yang menjadi kajian Najib dalam karya ilmiahnya adalah ia berhasil menyodorkan bukti persambungan antara Islam dan tasawuf di Indonesia dengan tasawuf di Maroko (Al-Gharb Al-Islami). Hal itu, selama ini sering dilupakan, baik melalui hubungan guru dan murid dan hubungan budaya, juga lainnya.

Dikatakan oleh Ibrahim Harakat dalam bukunya "Pengantar Sejarah Ilmu di Maroko", tulis Najib, “Bahwa setelah berdirinya Maroko di wilayah Afrika yang subur dengan ulamanya telah membuka akses mereka untuk ekspansi ke Timur (masyriq) untuk berdakwah dengan membawa karya-karya monumentalnya sehingga tersebarlah mereka di wilayah Timur sampai banyak memiliki murid". (Nasrullah Afandi/bersambung)

0 Komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar Asal Jaga Kesopanan Religi

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda