Senin, 30 Agustus 2010

KRITIK PRAKTEK TAREKAT & TASAWUF (1)

Kini, Menjelma Menjadi Ladang Penggalian Materi dan Popularitas
 
Jumat, 23 November 2007 14:38
Rabat, NU Online
Ahmad Najib Afandi, kader muda Nahdlatul Ulama (NU), peraih gelar doktor pertama bidang tasawuf di Maroko. Mantan Sekretaris Keluarga Mahasiswa NU di Bagdad, Irak, tahun 1998 itu, menulis desertasinya berjudul "Al-Harakah Assufiyah bi Indonesia wa Atsaruha Fi Al-Falsafat Al-Ahlak".

Terdapat beberapa hal yang menjadi sorotan disertasinya tentang kesalahan praktik tarekat dan tasawuf akhir-akhir ini. Pertama, soal "pengingkaran" keberadaan syariat sebagai modal mencapai hakekat. Hal itu, ia buktikan melalui hasil wawancaranya dengan KH. Abdul Jalil Mustaqim, Mursyid Tarekat Naqsabandiyah di Tulungagung, Jawa Timur, sebelum wafat yang dibuatnya menjadi kajian khusus.

Kiai Mustaqim, kata Najib, mengatakan secara "brutal" menuding kiai pesantren adalah orang-orang yang salah mendidik masyarakat karena hanya mengaji dan sekolah. Akibatnya, tidak akan bisa mengantarkan mereka kepada Allah. “Coba bandingkan dengan anak saya yang masih SD (sekolah dasar, Red) tapi sudah bisa menceritakan hal-hal gaib,” kata Kiai Mustaqim seperti ditulis Najib.

Pernyataan Kiai Mustaqim dari hasil wawancara itulah yang kemudian mendorongnya membuat satu kajian dengan merujuk pemikiran KH Ihsan Jampes dalam karyanya “Sirajutolibin” yang mengatakan, “Bahwa saat ini banyak orang bodoh tapi berani mengatakan dirinya bisa sampai kepada maqom makrifat, mukasyafah dan mendapat karomat. Padahal, mereka samasekali tidak mengerti syariat, bagaimana mungkin hal itu terjadi (assufiyah al-maghrurin fi asrihi).

Sufi-sufi yang tersesat itulah judul yang digunakan Najib untuk mengkritik persoalan yang berat itu dari kajiannya tentang kenyataan tasawuf di Indonesia abad 20.

Sementara, kesalahan praktik tasawuf yang selama ini terjadi adalah maraknya pengajian atas nama tasawuf, mulai dari gang sempit hingga hotel berbintang dengan nilai jual rupiah yang sangat men-"dunia"-kan diri mereka. Sehingga, tasawuf tidak lagi menjadi gerakan moral dan ahlak, tapi telah menjelma sebagai ladang penggalian materi dan popularitas.

Ironisnya, terang Najib, hal itu banyak dilakukan oleh mereka yang samasekali belum pernah "berkenalan" dengan para pendiri tarekat dan pengarang kitab tasawuf. Akhirnya, apa yang mereka sampaikan lebih bersifat wacana, bahkan polemik yang terus mengkritik doktrin tasawuf yang mereka sendiri tidak akan mengerti. (Nasrullah Afandi/bersambung)

0 Komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar Asal Jaga Kesopanan Religi

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda