Senin, 30 Agustus 2010

KRITIK PRAKTEK TAREKAT & TASAWUF (3)

Tasawuf Indonesia Tak Lagi Beri Pencerahan Intelektual Kaumnya
 
Sabtu, 24 November 2007 08:01
Rabat, NU Online
Setelah membeberkan kritik secara umum, Ahmad Najib Afandi beralih menyasarkan kritiknya pada kenyataan dunia tarekat dan tasawuf di Indonesia. Ia memberikan bukti kemunduran tasawuf di negeri ini yang menurutnya harus segera diperhatikan, yaitu kemunduran intelektual kaum tarekat yang memiliki doktrin bahwa tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) bisa membuka cakrawala ilmiah secara otodikak.

“Kalau KH Ihsan Jampes (Kediri, Jawa Timur) mampu menulis “Sirajutalibin” di usia 32 tahun dalam waktu kurang dari tiga bulan, kami sangat percaya. Begitu juga dengan Mbah Nawawi Banten (Syeikh Nawawi Al-Bantani, red) dengan ratusan karyanya dan lainnya, patut kita contoh kesufiannya,” ujar Najib.

“Dan, kita banggakan keilmuan dan keihlsannya dalam beribadah, walaupun beliau bukan ahli tarekat, bahkan melarang santrinya bertarekat. Begitu juga dengan tokoh-tokoh pendiri tarekat yang kini dianggap sebagai tarekat muktabarah oleh NU, semuanya memiliki karya intelektual,” tambah kader muda NU itu.

Namun demikian, ia mempertanyakan keberadaan kaum tarekat dan sufi di Indonesia kini yang ia nilai tak lagi mampu menghasilkan karya monumental seperti generasi sebelumnya. “Kini, mana karya kaum tarekat dan sufi Indonesia, kalau bukan karena ketertinggalan kemampuan mental, spiritual dan intelektual yang menjadi syarat mutlak bertarekat dan bertasawuf?” gugatnya.

Menurut Najib, hal itu berbeda dengan pergerakan tasawuf di Maroko, juga lainnya, yang hingga ini masih produktif dengan karya-karya monumental, baik dalam pemikiran Islam maupun tasawuf secara khusus.

Itulah satu sisi yang paling disorot pria yang kini menjadi pengajar tetap di Pondok Pesantren Al-Hikmah II Brebes, Jawa Tengah. Ia menilai, hal itu merupakan kemunduran besar yang lahir dari sebuah kesalahan yang besar pula. Sebab, katanya, kini pergerakan tasawuf di Indonesia tidak lagi memberikan pencerahan intelektual kaumnya agar tidak lagi saling menyalahkan, apalagi untuk orang lain.

Karena, jelas Najib, seharusnya mereka kini lebih unggul dibanding pendahulunya yang hidup dalam keterbatasan dan kesengsaraan hidup. Sesungguhnya, saat ini, tasawuf banyak dijadikan pelampiasan, pilihan akhir dari kegagalan. Bukan menjadi keharusan hidup yang sehat jasmani dan rohani.

“Walaupun hal itu tidak semuanya kita salahkan, tapi setidaknya, akan menjadi penyebab kemunduran intelektualitas dan mutu tasawuf dan tarekat. Karena, sufi yang sesungguhnya adalah mereka yang memiliki intelektualitas tinggi, bahkan luar biasa,” papar Najib. (Nasrullah Afandi/bersambung)

0 Komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar Asal Jaga Kesopanan Religi

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda