Minggu, 17 Oktober 2010

Rabu, 15 September 2010
بسم الله الرحمن الحيم
Dua model gerakan Thoriqot

I. Yang terpanggil ingin menumbuhkan dimensi Esoterik ( bathin ). Kelompok ini lahir karena tak betah lagi berada didunia dan ingin merasakan Kebahagiaan pada saat merasa mampu melakukan Inner journey kepada Allah swt.
II. Sebagai Protes ketika melihat bentuk-bentuk kejaliman melihat penguasa bergelimang dengan kehidupan duniawi dan praktek politik yang merendahkan martabat manusia. Kelompok ini melakukan Uzlah/isolir untuk melindungi diri agar tidak terkena "Polusi" kejaliman.
Macam-macam Thariqot di indonesia ada 45 thariqot yang dinilai sah tergabung dalam ( جمعيةأهل الطريقةالمعتبرة )
©Thariqot Naqsyabandiyyah- Pendirinya : Syekh Muhammad bin muhammad Bahauddin Syah Bukhari An-Naqsyabandiy (1317-1389). Di Indonesia pertama kali disebarkan oleh Syekh Abdul wahab Rukan ( wafat 71 thn ) dimakamkan di Babus-salam Tanjung pura langkat Sumut.
© Tiga aliran Thariqot naqsyabandiyah di indonesia ;
ألنقشبنديةالمظهرية~ ألخالدية~ ألقادريةوالنقشبندية : ألشيخ أحمدخاطب شمباس بن عبدالغفار
© Sejumlah Thariqot yang punya pengikut diindonesia ;
 خلوتية : Sulawesi selatan
ستارية   : Jawa+ Sumatera
شاذلية   : Jawa tengah
 تجانية   : Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijaniyyah 1150-1230h abad 16 Imam besar sufi di ainu mahdi Fez maroko masuk ke indonesia1922
 قادرية~ رفاعية~ إدريسية~ أحمديةسنوسية: محمدبن على ألسنوسي- المغربي~ Ponpes Buntet cirebon   
Pola latihan Spirituil pertama kali dirumuskan oleh Syekh Abdul Khaliq Al-Ghojdawani- Guru pada tingkat ke 10 dalam silsilah para Mursyid Thariqot Naqsyabandiyah ; Meliputi : Menjaga langkah & pandangan. Selalu mencari kebenaran melalui para guru. Menyepi & Menyendiri / Uzlah. Dzikir Tawhid secara dawam
لآ إله إلا الله
sehingga keharusan mengevaluasi setiap amal ibadah
#Syekh Ahmad Khatib Sambas;Thoriqot:jalan spiritual untuk mendekati Allah,suatu upaya bersatu dengan Allah #Salik:  Hamba yang berjalan menuju Allah memerlukan,melepaskan,bebaskan diri dari segala sesuatu keluar dari kebanggaan diri•Jauhar:Suatu yang tidak dapat terbagi.¤سر/أسرار;Rahasia.Laksana sesuatu yang terselubung dalam kelembutan&Kehalusan.Yg tersembunyi di dalam diri manusia,halnya seperti keadaan Ruh-Qolbu-Fuad/mata hati.Ya Allah tengoklah hambaMu ini yang berdatang sembah dalam keadaan durhaka penuh dosa Tolonglah hamba dalam segala urusan.hambalah segala kemalangan itu..hanya Engkaulah yang dapat memilih mana yang baik untuk hamba.hambalah yang bodoh terhadap maslahatku diantara kedua tanganMu,hindarilah dari pada hamba tidak memilih atasMu.*Duhai Pelindung diriku,Arahkanlah diriku dengan WajahMu untuk menatap WajahMu.مولاياوجهني بوجهك لوجهك.*مقام برهوت:Terminal terakhir,momentum totalitas hati fakum.¥Bulatkan tekadmu ! keraskan kemauanmu pdKu ! DenganKu engkau akan kekal, Dan putuslah engkau dari padamu,kpd Robmulah hendak pusatkan kemauanmu.
وإلى ربك فارغب#
Hamba slalu mentaatiMu,menurut seruanMu dan kebaikan itu adalah dgnMu,dari padaMu,kembali kpdMu,dan di kedua tanganMuلبيك وسعديك والخيربك ومنك وإليك وبيدك*
Memang suatu hal yg sulit dimengerti bahkan suatu hal yg sangat aneh jika Anda:Mengetahui-Nya kemudian tdk mencintai-Nya,atau Mendengar panggilan-Nya kemudian tdk memenuhinya,Mengetahui betapa besar keuntungan berinteraksi dengan-Nya lalu berinteraksi dengan selain-Nya,...Mengetahui betapa besar murka-Nya,kemudian membelakangi-Nya,Dan lebih aneh lagi bila anda yakin bahwa anda membutuhkan-Nya kemudian anda menghindar dari-Nya.
Qolbu / Batin Insan~ 1.Niat=Tujuan=Behavior/tingkah-
laku=Sains-Skill~Moral/Nilai Akhlaq~Attitude/Sikap* 2.Rasa/sens=Motivasi=Persaan/emosi=Mental/Nilai Taqwa~Attitude/Sikap*3.Religie*4.Akal-fikiran*5.Nafsu*
Segala aktivitas yang dilakukan anggota badan jasmani adalah merupakan Proyeksi dari pada yang terkandung di dalam bathin manusia.
إن في الجسدبني آدم مضغة،إذاصلحت صلح الجسدكله،وإذافسدت فسدالجسدكله ألآوهي "ألقلب"

Istilah " Tashawwuf"

© "Sufisme" dinisbatkan kepada seorang yang disebut Sufah, namanya Al-Ghouts bin Mor, yang muncul pada zaman jahiliyyah.
[ إبن الجوزي ألبغدادي wafat 597 H
©  "Sufisme" Berasal dari kata Yunani " Shopia" berarti Bijak, Arif. [Al-Biruni- Joseph von Hammer].
©  "Sufisme" Berasal dari kata " صوف"/sutera. "  صفة" Serambi Masji Rasulullah saw. " صفا"/Bersih. " صف الأول"/barisan pertama.
Tokoh-tokoh Sufie / Ahli Shuffah
© Shahabat ; أبوهريرة،خباب بن ألأرث،بلال بن رباح،سلمان ألفارسي،أبوسعيدألخدري،أبوبرزح ألأسلمي،صهيب بن سنان،عماربن يسير،عبدالله بن مسعود،سعدبن أبي وقاص،عقبةبن عامر،أبوفقيهة بن يسارمولى بني أمية،وابضةبن معبدألجحني،أنس بن مالك رضي الله عنهم أجمعين.
© Tabi'ien ; حسن ألبصري،ألشبلي،علي بن حسين،محمدألباقر،جعفرألصادق،أويس ألقرني،حازم،سلمه بن دنار،ألقمه،ألأسودبن زيد،إبراهم ألنخعي،مالك بن دنار،محمدبن سررضي الله عنهم أجمعين.،
Asy-Syibly : " Tasawuf itu awalnya mengenal Allah, dan akhirnya mentawhidkan Allah ".
Sufyan Ats-Tsauri ( 97-161 H ) : " Zuhud di dunia adalah istana cita-cita, bukanlah menyantap makanan yang keras, dan bukan pula
memakai jubah ".
Ibrahim bin Adham ( Wafat 161 H ) ; Ditinggalkannya kerajaan &
kekuasaan, kemudian ia mengambil sikap zuhud & tasawuf.
Abu Yazid Al-Busthami ( Wafat 234 H-261 H ). ayahnya pengikut Zoroaster, kakeknya majusi. dia batalkan ketemu orang zuhud karena meludah ke arah qiblat.
Abu Mughits Al-Husein bin Manshur Al-Hallaj ( 244-309 ) ; "Hululiyyien" / pantheisme dan " Ittihadiyyin "/ manunggaling kawula gusti.
Dzun-Noun Al-Mishri ( Wafat 245 H ) ; Orang pertama yang membidani lahirnya Madzhab Ma'rifat dalam tasawuf. : " Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku. Kalaulah tidak karena Tuhanku, Aku tak akan mengenal Tuhanku ".
Abu Muhammad Al-Jariri ( Wafat 311 H ) : " Tasawuf adalah termasuk ke dalam segala akhlak yang mulia dan keluar dari segala akhlak yang hina ".
Abu Bakar Al-Kattani ( Wafat 322 H ) : " Bahwa tasawuf itu adalah akhlak. Karena itu, barangsiapa yang meninggalkan diri agar lebih berakhlak, maka sesungguhnya ia telah berhasil meningkatkan diri menjadi orang yang lebih bersih ". Ia berkata ; " Tasawuf adalah kesucian dan kesaksian ".
Ja'far Al-Khuldy ( Wafat 348 H ) : " Tasawuf itu melemparkan jiwa ke dalam u'budiyah, dan keluar dari sifat-sifat kemanusiaan, untuk melihat Dia Yang Maha Haq secara universal ".
Basyar bin Harirts : " Seorang sufi adalah orang yang hatinya bersih karena Allah ".
Qusyairiy : " Wara' itu meninggalkan yang syubhat ".
Robi'ah Al-A'dawiyah ( 717-801 M ) ; Terkumpul dalam dirinya sifat zuhud & cinta / " إشغ الإلاهي"( tenggelam dalam kerinduan Allah ).
Abul-Qosim Al-Junaidi ( Wafat 297 H ) : " Tasawuf ialah engkau dimatikan oleh Dia Yang Haq dari engkau, dan engkau dihidupkan-Nya dengan-Nya "
Abu Hamid Al-Ghazali " Hujjatul-Islam" ( 450-505 H ) lahir di Thus daerah Khurasan Iran.
Abul-Futuh Syihabuddin As-Sahrudi ( 549-587 ) lahir di Sahrud Iran.
Muhiddin bin Arabi "Syekh Akbar" ( 560-638 H ).Bapak " Wihdatul-wujud"
Abul-Hasan Asy-Syadzili ( 593-656 H ) : " Kita mesti memandang Allah dengan mata hati iman dan keyakinan. Karena itu, kita tidak butuh dalil & bukti ".
Renier Ginaut Sufu Eropa " Abdul Wahid "
Thoriqot ألقادريةSyekh Abdul-Qodir Al-Jailani ( 470-561 H ). memili keturunan 49 anak, 11 orang penyebar Thoriqotnya.
Thoriqot رفاعيةAhmad Ar-Rifa'i ( Wafat 580 H ) ; Para pengikutnya menggunakan pedang & keris dalam membuktikan karomanya.di asia barat.
Thoriqot أحمديةAhmad Al-Badawi di Mesir ( 596-634 H ); Tokoh ini terkenak ahli berkuda, beri'tikaf dalam ibadah dan tidak mau kawin. tersebar di mesir. Mereka mempunyai cabang-cabang seperti Bayuni, Syanawi, putera-putera Nuh dan Sya'biyah. Ciri-ciri mereka adalah Sorban merah.
Thoriqot أكبرية Syekh Akbar Muhyiddin bin Arabi ; Prinsip: Diam, Uzlah, Lapar, dan begadang. Tiga sifat ; Sabar menghadapi cobaan, Bersyukur atas segala nikmat, dan Ridha kepada keputusan Allah swt.
Thoriqot دسوقية Ibrahim Ad-Dasuqi ( 633-679 H ). Thoriqotnya mengajak keluar dari jiwa dengan segala nasibnya. Modal adalah mencintai segala makhluk, pasrah, dan membisu dibawah kemauan & perintah syekhnya. mengajak untuk berilmu & beramal tanpa diharuskan menyendiri kecuali bila diperintahkan Syekhnya.
Thoriqot  بكداشية  lebih dekat kepada thoriqot Syi'ah dari pada sunnah, banyak tersebar di Albania oleh orang Turki & Mongol pada penguasa Osmaniyah.
Thoriqot مولاوية Jalaluddin Rumi Persia ( Wafat 672 H di Qunia ); Musik & dansa merangsang dalam halaqoh dzikir, tersebar di Turki & Asia barat.
Thoriqot نقشبندية Syekh Bahauddin Muhammad bin Muhammad Al-Bukhari yang bergelar Naqsyabandi ( 618-791 H ). tersebar di Persia,India & Asia barat.
Thoriqot ملامتية Abu Shalih Hamadun bin Ahmad bin Ammar,yang dikenal dengan Al-Qasshar ( Wafat 271 H ) ; Sebagian pengikutnya membolehkan melawan dengan hawa nafsu dalam upaya memerangi hawa nafsu dengan segala kekurangannya. Di Turki muncul prilaku yang sangat berlebih-lebihan dalam bentuk Permisifisme ( Paham serba boleh ) terutama dalam mengumbar hawa nafsu tanpa memperdulikan Syara'.




Ensiklopedia Tashawwuf

Syari'at adalah Segala Perkataan-ku, Thoriqot adalah Segala Perbuatan-ku, Haqiqot adalah Segala Keadaan batin-ku, Ma'rifat Pangkal segala Pengetahuan-ku.
ألشريعةأقوالي والطريقةأفعالي والحقيقةأحوالي والمعرفةرأس مالي
Syari'at dengan tidak ada Haqiqat adalah Hampa. Haqiqat dengan tidak ada Syari'at adalah Batal.
Barangsiapa mengamalkan Ilmu Fiqih ( syariat ) dengan tidak bertashawwuf ( haqiqat ) Maka Munafiq, Dan Sebaliknya...Maka Zindiq ( lahirnya mukmin, batinnya kafir ). Dan barangsiapa mengaplikasikan keduanya, Maka dia sampai ke Maqom Tahqiq / sebenar-benarnya ( Haqiqat ) dan kelezatannya adalah M a' r i f a t.
Maqom مقام : Tingkatan ruhani yang dilalui oleh seorang pelaku tashawwuf untuk menuju kepada Allah swt. ( station )
Hal-Ahwal أحوال : Angin kecil yang berhembus kepada pelaku tashawwuf, kemudian jiwanya menjadi segar,beberapa saat meletup-letup,kemudian berlalu meninggalkan parfum yang membuat ruh sangat rindu untuk kembali kepadanya,Hal itu turun bersama Qolbu (temporer), sebagai Anugerah, Kedudukan dan keberuntungan dari Allah swt, sedangkan Maqomat dapat dicapai dengan usaha keras.
Tingkatan سلوك (jalan yang ditempuh) pertama adalah Mencintai Allah swt & Rasul-Nya ; Berusaha keras meneladani Rasul saw.
Tawbat  توبة  : Kembali kepada Fitrah yang tercemar dosa ; - Penyesalan,- Tekad-bulat,- Memilih & memilah lingkungan kondusif dengan membersihkan diri dari yang bersangkutan,bila berkaitan dengan seseorang.
Waro' ورع : Meninggalkan segala yang Syubhat dalam ucapan,tindakan & hati.
Zuhud زهود : Dunia yang ada nampak di tangannya, tetapi Hatinya terpaut dengan apa yang ada di tangan Allah swt.
Tawakal توكل :Berlama-lama dengan Allah swt berdasarkan apa yang dikehendaki-Nya.
Mahabbah محبة : " Indikasinya menyesuaikan diri dengan yang dicintai,dan segala pola & caranya serasi dalam berbagai segi.
Ridha رضى : Hati merasa tenteram di bawah naungan hukum Allah swt. Ridha adalah tingkatan terakhir, kemudian setelah itu diikuti oleh hal-ihwal dari pemilik hati,menelaah hal-hal ghoib,menghaluskan nurani, untuk membersihkan dzikir dan hakikat ahwal.
Aliran Salaf / سلف/سلفي : Ulama Klasik yang hidup dalam 300 thn sesudah tahun Hijrah. Mereka menyarahkan arti yang hakiki all kata dalam Al-Qur'an yang berhubungan dengan sifat dan af'al Allah swt  secara Global / Ijmal seperti " إستوى"; duduk, "  يد"; tangan, "  نزل"; turun dsb. tanpa ada  i'tiqod Penyerupaan.
Aliran Khalaf / خلف/خلفي : Ulama Kontemporer yang hidup di muka 300 thn sesudah Hijrah sampai sekarang. Mereka mentakwilkan perkataan "  إستوى";  "menguasai / memerintah". " يد " ; "kekuasaan". "نزل "; "rahamat". Q.S : 20 Thaha 5 ; " Pekataan Istiwa ( إستوى) sudah diketahui oleh setiap orang artinya, Tetapi Caranya tidak diketahui, Bertanya-tanya dalam soal ini adalah Bid'ah" ( ألإستواءمعلوم، والكيفيةمجهول،والسؤال مجهول) [ Imam Malik bin Anas- Maliki ~ 93 H - 179 H].
Tawassul توسل~وسيلة  : Mengerjakan sesuatu amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah swt. QS. 5 : 35. 17 : 57.
عن أنس أن عمربن الخطاب رضي كان إذاقحطوااستسقى بالعباس بن عبدالمطلب فقال: أللهم كنانتوسل إليك بنبينافتسقيناوإنانتوسل إليك بعم نبينافأسقينافيسقون.رواه البخاري.
" Dari Anas bin Malik ra. Bahsannya Umar bin khattab ra Apa bila terjadi kemarau beliau mendo'a bertassul dengan Abbas bi Muthallib.Umar mendo'a " Ya Allah Bahwasnnya kami pernah mendo'a dengan bertawassul kepada Engkau dengan Nabi, maka Engkau turunkan hujan, dan sekarang kami bertassul kepada Paman nabi, maka ya Allah turunkanlah hujan ! Berkata Anas : maka turunlah hujan kepada kami
 قال رسول الله صلعم لماإقترف ادم الخطيئةقال يارب أسألك بحق
 محمدإلاماغفرت لي،فقال الله تعالى:ياادم كيف عرفت محمداولم أخلقه.قال يارب إنك لماخلقتني رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوبالآإله إلاالله،محمدرسول الله فعلمت أنك لم تضفف إلى أسمآئك إلاأحب الخلق إليك.فقال الله صدقت ياادم إنه لأحب الخلق إلي فإذاسألتني بحقه فقدغفرت لك.رواه البيهقي بإسنادصحيح
أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال في دعائه: بحق نبيك والأنبياءمن قبلي.رواه الطبراني وقال حديث حسن
عن أبي هريرة.أن رسول الله قال إذاقال الرجل لأخيه ياكافرفقدبآءبه أحدهما.رواه البخاري..إبن عمريقول قال رسول الله أيماامرئ قال لأخيه ياكافرفقدبآءبه إن كان كماقال وإلارجعت عليه.رواه مسلم
أصل البركة ثبوت الخيرالإلهي فى الشيئ<ألفتوحات الإلهية>.أصل البركة المواظبةعلى الشيئ<ألبغوي>ألسعادة باطنية<كياهي شافعي حذم>
Tingkat-tingkat Roh
1. Roh yang menerima sesuatu yang disampaikan oleh panca indra. Roh tingkatan ini merupakan dasar & awal roh hewani, Dengan roh ini, hewan jadi makhluk hidup. Roh tingkatan ini ada pada anak usia menyusui.<  ألروح الحساس      >
2. Roh yang menyimpan segala sesuatu yang disampaikan panca indra, menampungnya, dan menjaganya untuk disampaikan--ketika diperlukan-- ar-ruh al-aqli yang ada pada tingkat yang lebih atas. Roh-khayali tidak ada pada anak usia menyusui pada awal pertumbuhannya, Karena itu, kita sering melihat anak usia menyusui menginginkan suatu benda untuk diambilnya,namun ketika benda itu tidak ada dihadapannya,ia melupakannya. <  ألروح الخيالي     >
3. Roh yang dengannya manusia dapat mengetahui pengertian-pengertian di luar indra & khayal. Roh tingkatan ini merupakan elemen manusia yang paling spesifik. Roh tingkatan ini tidak terdapat pada anak kecil dan binatang. Ilmu pengetahuan yang dapat dicapai roh ini akan bertambah luas jika nur akal mengatasi nur mata.                            
4. Roh yang dengannya, logika bisa didapatkan.
ألروح العقلي
5. Roh khusus para nabi. Dengan roh emisi ini, lembaran-lembaran ghoib, masalah akhirat dan sejumlah pengetahuan rahasia langit dan bumi bisa nampak, sebagaimana  diisyaratkan dalam firman Allah swt ; QS.Asy-Syu'ra 52    . ألروح الفكري

Mukasyafah ( Melihat apa yang dibelakang tiai ) : Melihat makna-makna ghaib & Hakiakat wujud.Tajalli-Dzat ; galbat-alyaqin : keyakinan yang sangat kuat sehingga si hamba seolah-olah 'melihat' Allah sehingga lupa selain dari-Nya.( ihsan ). Musyahadah : Menyaksikan Allah sehingga lenyaplah segala sifat.
"Bagiku sudah cukup dari segala problemaku Allah mengetahui keadaanku"
حسبي من سؤالي علمه بحالي

 

Kedudukan Syariat dalam Empat Tingkatan Spiritual


Empat tingkatan kedalaman beragama
Syari'at dalam perspektif faham tasawuf ada yang menggambarkannya dalam bagan Empat Tingkatan Spiritual Umum dalam Islam, syariat, tariqah atau tarekat, hakikat. Tingkatan keempat, ma'rifat, yang 'tak terlihat', sebenarnya adalah inti dari wilayah hakikat, sebagai esensi dari kempat tingkatan spiritual tersebut.
Sebuah tingkatan menjadi fondasi bagi tingkatan selanjutnya, maka mustahil mencapai tingkatan berikutnya dengan meninggalkan tingkatan sebelumnya. Sebagai contoh, jika seseorang telah mulai masuk ke tingkatan (kedalaman beragama) tarekat, hal ini tidak berarti bahwa ia bisa meninggalkan syari'at. Yang mulai memahami hakikat, maka ia tetap melaksanakan hukum-hukum maupun ketentuan syariat dan tarekat. Demikian seterusnya.


i
بسم الله الرحمن الحيم

W
 

THORIQOT
APA ITU THORIQOT ?

Thoriqot, dalam bahasa kita diucapkan tarekat atau suluk. Thoriqot itu sendiri artinya jalan, metode atau cara .Sebagaimana diriwayatkan oleh Sahabat Rasull Saw yaitu
Sayidina Ali Ra. "Qoola a'liyy bin Abi Thalib; Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotinaqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi dzikrulahi". Artinya; "Ali Bin Abi Thalib berkata;
"aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode (Thariqot) apakah yg bisa mendekatkan diri kepada Allah? "Rasullulah menjawab; "Dzikrulah." Sementara dari segi etimologi,
sebagaimana yang dikatakan oleh Nurcholis Majid, tarekat adalah cara atau jalan untuk mendekatkan diri pada Allah. Atau, sebagaimana yang dikatakan oleh Dr,Mustafa Zahri,
thoriqot adalah suatu sistem untuk menempuh jalan yang pada akhirnya mengenal dan merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan keadaan
seseorang dapat melihat Allah dengan mata hatinya .
Di dalam kitab Tanwirul Qulub halaman 407 thoriqot itu adalah mengamalkan syareat dan mengambil sesuatu yang paling penting, menjauhi sesuatu yang mudah atau
ringan dari sesuatu tidak pantas disepelekan. Juga menjauhi hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan dan melaksanakan yang fardlu serta sunat-sunatnya sesuai kemampuannya yang dibimbing oleh seorang yang telah ma'rifat kepada Allah (guru mursyid).
Sedangkan Prof. Dr. Buya Hamka, mengatakan: "Maka diantara makhluk dankhaliq itu ada perjalanan yang harus kita tempuh. Inilah yang kita katakan Thariqot.
Jadi penulis simpulkan Thoriqot adalah suatau jalan, cara atau metode yang ditempuh oleh seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT baik lahir maupun
batin. Menurut para Alim Ulama ahli ma'rifat Thoriqot terbagi dua : 1) Thoriqot Suluk yaitu membersihkan nafsu dari segala kotoran dengan cara (thoriqot) riyadloh, puasa, tidak tidur(melek), uzlah, zuhud dengan bimbingan mursyid agar bisa mencapai setingkat demisetingkat kepada maqom (kedudukan) yang sempurna. Bahkan menurut Imam Al
Ghazali:"Barang siapa yang telah bertafaqur dalam masalah agama (memahami, mempelajari,mengamalkan agar mendapat ridlo Allah itu juga disebut thoriqot suluk). 2) Thoriqot Tabaruk yaitu murid mengambil dzikir dari guru mursyid agar hatinya tidak lupa kepada Allah,supaya diampuni dosa, jauh dari macam-macam balai, selamat dari hal-hal yang dibenci syara, selamat dari perbuatan hina dan siksaan Allah sehingga sampai kepada tujuan yaitu hati bersih dan kembali menghadap Allah. Contoh Thoriqot Tabaruk ini seperti yang diamalkan di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya yang dipimpin oleh seorang
Mursyid Syekh Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin Ra yang dikenal Abah Anom.
Thoriqot, bukanlah aliran kepercayaan atau aliran kebatinan, tetapi thoriqot adalah bagian dari ajaran Agama Islam yang terpenting. Sebagaimana sabda Rasullulah SAW :
"Asysyari'atu aqwaalii athoriiqotu af'aalii alhaqiiqotu ahwaalii alma'rifatu ro'sul maalii" (HR. Anas bin Malik). Artinya : "Syari'at itu ucapanku, thoriqot itu perbuatanku,
hakikat itu keadaanku dan ma'rifat itu puncak kekayaan (batin)". (HR. Anas bin Malik).
Dari semua Thoriqot itu ada yang benar dan salah. Thoriqot yang benar disebut Thoriqot Mu'tabaroh yaitu Thoriqot yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits dan sanadnya atau silsilahnya sampai kepada Rasullulah, sedangkan Thoriqot yang salah disebut Thoriqot Ghoyr Mu'tabaroh yaitu Thoriqot yang tidak saesuai dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits dan sanadnya atau silsilahnya tidak sampai kepada Rasullulah.
Sejarah Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah di Indonesia
Dua pengikut aliran sufi terbesar di dunia, yaitu Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah, kedua-duanya terdapat di Indonesia. Tidak diketahui secara pasti bagaimana paham Qadiriyyah datang ke Indonesia. Syed Naguib al-Attas memberitahukan bahwa Hamza Fansuri (Sumatera Utara) adalah pengikut Thariqat Qadiriyyah, sebagai seorang yang bereputasi, dia berhasil mengumpulkan pengikutnya. Belakangan diketahui, bahwa rujukan pengikut Qadiriyyah adalah Syaikh Abd al-Qâdir al-Jaylânî, sebagaimana ditemukan dalam puisi Fansuri, yang berdomisili di Aceh pada pertengahan abad 16. Sebagai tambahan, bahwa dalam prosa Fansuri tertulis Syaikh Sufi terkenal seperti Abû Yazid al-Bustamî, Junayd al-Baghdâdi, Manshûr al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Ibn Arabi, Jami, Attar, dan beberepa syaikh lainnya.
Diungkapkan bahwa orang pertama yang memperkenalkan Qadiriyyah adalah Syikh Yusuf Makassar (1626-1699). Guru Qadiriyyahnya, Muhammad Jailani ibn Hasan ibn Muhammad al-Hamid, seorang imigran dari Gujarat bersama pamannya Nur al-Dîn al-Raniri. Di Yaman, Syaikh Yusuf belajar ajaran Naqshabandiyyah dari Syaik terkenal dari Arab, Muhammad Abd al-Baqi. Sufi lainnya dari Aceh, Abd al-Rauf al-Sinkili, yang belajar di Madinah pada pertengahan abad 17 di bawah bimbingan Syaikh Ahmad al-Qushashi dan Ibrahim al-Qurani, dimana mereka merupakan Guru Paham Qadariyyah.
Lombard menginformasikan kepada kita, bahwa asal muasal Thariqat Naqsabandiyyah di Indonesia, ditunjukkan dengan pernyataan L.W.C van den Berg, bahwa Dia datang dan aktivitas Thariqat Naqsabandiyyah telah ada di Aceh dan Bogor, dimana dia menyaksikan dzikir Naqsabandiyyah sebagai aktivitas utama. Kemudian Dia menggambarkan kedatangan Thariqat Naqsabandiyyah di wilayah Medan, tepatnya di Langkat.
Penulis berikutnya menggambarkan bahwa Syaikh Abd al-Wahhab Rokan al-Khalidi al-Naqshabandi memperkenalkan Naqsabandiyyah ke Riau. Setelah menghabiskan waktu selama 2 tahun di Malaysia dalam rangka berdagang, beliau pergi ke Makkah dan belajar di bawah bimbingan Syaik Sulaiman al-Zuhdi. Pada tahun 1845, beliau mendapatkan sertifikat dan kembali ke Riau kemudian mendirikan perkampungan Thariqat Naqsabandiyyah dengan nama Bab al-Salâm .
Pada abad ke-19, Thariqat Naqshabandiyyah mempunyai cabang di Makkah, dimana menurut Trimingham, salah satu Syaikh Naqshabandiyyah dari Minangkabau (Sumatera Barat) juga aktif pada tahun 1845. Dari Makkah, Thariqat Naqshabandiyyah tersebar luas ke berbagai negara termasuk ke Indonesia, melalui jamaah haji setiap tahun. Kedua Thariqat tersebut muncul pada abad ke-7 dan 8 Hijriyyah (abad ke-12/13 Masehi). .
Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia. Dan yang sangat penting adalah membantu dalam membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang lokal (Indonesia) tetapi para pengikut kedua Thariqat ini ikut berjuang dengan gigih terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.
Survey tentang sejarah Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mempunyai hubungan yang erat dengan pembangunan masyarakat Indonesia. Thariqat ini merupakan salah satu keunikan masyarakat muslim Indonesia, bukan karena alasan yang dijelaskan di atas, tetapi praktek-praktek Thariqat ini menghiasi kepercayaan dan budaya masyarakat Indonesia. Selanjutnya, Syekh Sambas tidak mengajarkan kedua Thariqat ini secara terpisah, tetapi dalam satu kemasan (penggabungan kedua Thariqat).
 طريقة ألقادريةوالنقشبندية
Sejarah Singkat Syaikh Sambas
Khatib Sambas dilahirkan di Sambas, Kalimantan Barat, Beliau memutuskan untuk pergi menetap di Makkah pada permulaan abad ke-19, sampai beliau wafat pada tahun 1875. Diantara guru beliau adalah; Syaikh Daud ibn Abdullah al-Fatani, seorang syekh terkenal yang berdomisili di Makkah, Syaikh Muhammad Arshad al-Banjari, dan Syekh Abd al-Samad al-Palimbani. Menurut Naquib al-Attas, Khatib Sambas adalah Syaikh Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah. Hurgronje menyebutkan bahwa Beliau adalah salah satu guru dari Syaikh Nawawi al-Bantani, yang mahir dalam berbagai disiplin ilmu Islam.
Zamakhsari Dhafir menyatakan bahwa peranan penting Syaikh Sambas adalah melahirkan syaikh-syaikh Jawa ternama dan menyebarkan ajaran Islam di Indonesia dan Malaysia pada pertengahan abad ke-19.
Kunci kesuksesan Syaikh Sambas ini adalah bahwa beliau bekerja sebagai فتح العارفين fath al-Arifin, dengan mempraktekkan ajaran sufi di Malaysia yaitu dengan bay'a بيعة, zikir, muraqabah, silsilah, yang dikemas dalam Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah.
Gambaran Disiplin Ilmu Syaikh Sambas
Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syaikh Sambas melalui ajaran-ajarannya setelah beliau kembali dari Makkah. Dikatakan bahwa Syaikh Sambas merupakan Ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, diantaranya Syaikh Abd al-Karim Banten. Abd al-Karim terkenal sebagai Sulthan al-Syaikh, beliau menentang keras imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syaikh Sambas.
Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut Sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syaikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama, dimana tuduhan penulis Eopa tersebut tidak tepat ditujukan kepada beliau. Syaikh Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan syaikh-syaikh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syaikh Tolhah kali sapu dari Cirebon, dan Syaikh Ahmad Hasbullah ibn Muhammad dari Madura, dimana mereka berdua pernah menetap di Makkah.
Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan pada akhir abad ke-19 Thariqat ini menjadi sangat terkenal. Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah tersebar luas melalui Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalaam.

Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah adalah perpaduan dari dua buah tarekat besar, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah. Pendiri tarekat baru ini adalah seorang Sufi Syaikh besar Masjid Al-Haram di Makkah al-Mukarramah bernama Syaikh Ahmad Khatib Ibn Abd.Ghaffar al-Sambasi al-Jawi (w.1878 M.). Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah. Syaikh Ahmad Khatib adalah mursyid Thariqah Qadiriyah, di samping juga mursyid dalam Thariqah Naqsabandiyah. Tetapi ia hanya menyebutkan silsilah tarekatnya dari sanad Thariqah Qadiriyah saja. Sampai sekarang belum diketemukan secara pasti dari sanad mana beliau menerima bai'at Thariqah Naqsabandiyah.

Sebagai seorang mursyid yang kamil mukammil Syaikh Ahmad Khatib sebenarnya memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya. Karena dalam tradisi Thariqah Qadiriyah memang ada kebebasan untuk itu bagi yang telah mempunyai derajat mursyid. Karena pada masanya telah jelas ada pusat penyebaran Thariqah Naqsabandiyah di kota suci Makkah maupun di Madinah, maka sangat dimungkinkan ia mendapat bai'at dari tarekat tersebut. Kemudian menggabungkan inti ajaran kedua tarekat tersebut, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah dan mengajarkannya kepada murid-muridnya, khususnya yang berasal dari Indonesia.

Penggabungan inti ajaran kedua tarekat tersebut karena pertimbangan logis dan strategis, bahwa kedua tarekat tersebut memiliki inti ajaran yang saling melengakapi, terutama jenis dzikir dan metodenya. Di samping keduanya memiliki kecenderungan yang sama, yaitu sama-sama menekankan pentingnya syari'at dan menentang faham Wihdatul Wujud. Thariqah Qadiriyah mengajarkan Dzikir Jahr Nafi Itsbat, sedangkan Thariqah Naqsabandiyah mengajarkan Dzikir Sirri Ism Dzat. Dengan penggabungan kedua jenis tersebut diharapkan para muridnya akan mencapai derajat kesufian yang lebih tinggi, dengan cara yang lebih mudah atau lebih efektif dan efisien. Dalam kitab Fath al-'Arifin, dinyatakan tarekat ini tidak hanya merupakan penggabungan dari dua tarekat tersebut. Tetapi merupakan penggabungan dan modifikasi berdasarkan ajaran lima tarekat, yaitu Tarekat Qadiriyah, Tarekat Anfasiyah, Junaidiyah, dan Tarekat Muwafaqah (Samaniyah). Karena yang diutamakan adalah ajaran Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah, maka tarekat tersebut diberi nama Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Disinyalir tarekat ini tidak berkembang di kawasan lain (selain kawasan Asia Tenggara).
Penamaan tarekat ini tidak terlepas dari sikap tawadlu' dan ta'dhim Syaikh Ahmad Khathib al-Sambasi terhadap pendiri kedua tarekat tersebut. Beliau tidak menisbatkan nama tarekat itu kepada namanya. Padahal kalau melihat modifikasi ajaran yang ada dan tatacara ritual tarekat itu, sebenarnya layak kalau ia disebut dengan nama Tarekat Khathibiyah atau Sambasiyah, karena memang tarekat ini adalah hasil ijtihadnya.

Sebagai suatu mazhab dalam tasawuf, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah memiliki ajaran yang diyakini kebenarannya, terutama dalam hal-hal kesufian. Beberapa ajaran yang merupakan pandangan para pengikut tarekat ini bertalian dengan masalah tarekat atau metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Metode tersebut diyakini paling efektif dan efisien. Karena ajaran dalam tarekat ini semuanya didasarkan pada Al-Qur'an, Al-Hadits, dan perkataan para 'ulama arifin dari kalangan Salafus shalihin.

Setidaknya ada empat ajaran pokok dalam tarekat ini, yaitu : tentang kesempurnaan suluk, tentang adab (etika), tentang dzikir, dan tentang muroqobah.

Periode Setelah Syaikh Sambas
Pada tahun 1970, ada 4 tempat penting sebagai pusat Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah di pulau Jawa yaitu: 1.Rejoso (Jombang) di bawah bimbingan Syaikh Romli Tamim, 2.Mranggen (Semarang) di bawah bimbingan Syaikh Muslih,
3.Suryalaya (Tasikmalaya) di bawah bimbingan
ألشيخ كياهي الحاج أحمدصاحب الوفى تاج العارفينAbah Anom Shahib al-Wafa Tajul Arifin , dan Pagentongan (Bogor) di bawah bimbingan Syaikh Thohir Falak. Rejoso mewakili garis aliran Ahmad Hasbullah, Suryalaya mewakili garis aliran Syaikh Tolhah dan yang lainnya mewakili garis aliran Syaikh Abd al-Karim Banten dan penggantinya.
Pada prakteknya, ajaran Thariqat disampaikan melalui ceramah umum di masjid atau majelis ta'lim di rumah salah satu anggota Thariqat. Sehingga tidak mengagetkan jika selama masa ceramah umum, tidak ada materi yang terekam dengan cermat. Bagaimanapun juga, di bawah bimbingan Abah Anom, mempunyai kontribusi yang besar, dimana ajaran thariqat dibukukan dalam sebuah kitab berjudulمفتاح الصدور  Tujuan dari kitab ini adalah untuk mengajarkan teori dan praktek Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah sebagai usaha mencapai kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Hasil usahanya yang lain terkemas dalam kitab عقودالجمان
ألأخلاق الكريمة dan buku Ibadah sebagai Metode Pembinaan Korban Penyalahgunaan Narkotika dan Kenakalan Remaja.
Peranan Thariqat dalam Reformasi Sosial
Maulana Syaikh Muhammad Nazim Adil telah menjelaskan bahwa setelah terorisme, permasalahan terbesar umat manusia kedua adalah penyalahgunaan narkotika oleh generasi muda (The Muslim Magezine, Spring 1999). Permasalahan sosial ini bukan hanya dialami oleh bangsa Barat, tetapi juga menimpa kalangan generasi muda seluruh dunia. Walaupun jumlah korban narkoba di negara-negara Asia tidak sebesar di Barat, tetapi permasalahan ini menarik perhatian yang sangat serius bagi Abah Anom untuk mendirikan Pondok Inabah, pusat rehabilitasi korban narkoba dengan dzikir sebagai obatnya. Metodologi Abah Anom didasarkan pada hasil pengalaman spiritual beliau sebagai seorang sufi dan kepercayaannya bahwa dzikrullah mengandung pencahayaan/penerangan, karakter khusus dan rahasia yang dapat mengobati muslim yang mempercayainya. Hal ini didasarkan pada firman Allah: "Ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingatmu". Jasa dan keuntungan dari dzikir di Pondok Pesantren Suryalaya dapat dirasakan oleh sebagian masyarakat yang telah pergi berobat ke sana.
Penelitian terhadap metodologi Abah Anom pernah dilakukan oleh DR. Emo Kastomo pada tahun 1989. Dia melakukan evaluasi secara random terhadap 5.929 orang pasien di 10 Pondok Inabah. Dan hasilnya, 5.426 orang sembuh, 212 orang dalam proses menuju sembuh, dan 7 orang pasien meninggal dunia.
Peranan Thariqat dalam Politik
Ada tiga keikutsertaan pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah dalam usaha mancapai Indonesia merdeka, yaitu:
Pertama, keikutsertaan para syaikh dan haji di Banten pada revolusi Juli 1888. Dilaporkan bahwa Syaikh Abd al-Karim Banten tidak tertarik dengan akivitas politik, namun penggantinya Haji Marzuki lebih berpikiran reformis dan sangat anti Belanda. Walaupun Thariqat tidak memimpin dalam revolusi, tetapi Belanda khawatir dengan pengaruhnya, dan sebagian besar diantara mereka meyakini bahwa secara umum pengikut sufi khususnya Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah merupakan organisasi yang mempunyai tujuan untuk mengalahkan kekuatan kolonial.
Kedua, perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah Syaikh Guru Bangkol. Belanda mempertimbangkan bahwa Thariqat merupakan faktor terpenting timbulnya pemberontakan-pemberontakan. Walaupun penasehat Pemerintah Belanda Snouck Hurgrounje memberikan masukan bahwa terlalu berlebihan untuk menilai Thariqat sebagai usaha politik untuk melawan Belanda, pendapatnya tersebut tidak dindahkan sampai muncul Syarikat Islam, sebuah organisasi politik yang berdiri pada tahun 1911.
Ketiga, sekarang di Jawa ada tiga cabang terbesar Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yaitu Rejoso, Mranggen, dan Suryalaya, masing-masing memberikan dukungan terhadap partai-partai politik, dimana beberapa diantara mereka terlibat aktif dalam partai politik.
Gambaran Thariqat di Indonesia Sekarang
Pada tahun 1957, Jam'iyyah Ahl Thariqah Mu'tabarah didirikan oleh Nahdlatul Ulama, yang pada saat itu juga berbentuk partai. Tujuannya adalah untuk menyatukan semua kekuatan Thariqat dan memelihara silsila yang dimulai dari Nabi Muhammad Saw.. Jam'iyyah ini memelihara dan mengajarkan ajaran tasawuf dari 45 kekuatan Thariqat yang pernah ada pada tahun 1975. Syaikh Mustain Romly dari Rejoso diangkat sebagai pimpinan Jam'iyyah ini. Pada tahun 1979, ketika Syaikh Mustain Romli merubah afiliansinya dari Partai Persatuan Pembangunan ke GOLKAR, para Ulama mendirikan Jam'iyyah Ahl al-Thariqah al-Nahdliyyah, Pimpinan Jam'iyyah ini adalah Syaikh Haji DR. Idham Kholid, dimana pada saat itu pernah menyambut kedatangan Syaikh Muhammad Hisham Kabbani pada bulan Desember 1977.
y
h



 

TQN PONDOK PESANTREN SURYALAYA
A. Tujuan TQN
Tujuan TQN sama dengan tujuan Islam itu sendiri, yaitu menuntun manusia agar mendapat ridha Allah, sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat.
“Tuhanku, Engkaulah yang aku maksud dan keridoan-Mu yang aku cari. Berilah aku kemampuan untuk bisa mencintai-Mu dan ma’rifah kepada-Mu”.
Dalam do’a tersebut terkandung empat macam tujuan TQN itu sendiri yaitu :
1. Taqarrub Ilallah SWT.
Ialah mendektakan diri kepada Allah dengan jalan dzikrullah.
2. Menuju jalan Mardhatillah
Ialah menuju jalan yang diridai Allah Swt. Baik dalam ‘ubudiyyah maupun di luar ubudiyyah.
3. Kema’rifatan (al-ma’rifah); melihat tuhan dengan mata hati.
4. Kemahabbahan (kecintaan) terhadap “Dzat Laisa kamislihi Syaiun” yang mana dalam mahabbah itu mengandung keteguhan jiwa dan kejujuran hati.
B. Dasar-dasar TQN
Adapun dasar-dasar TQN agar dapat mencapai tujuan sebagaimana tertulis di atas, dijelaskan oleh Tuan Syaikh sendiri yaitu sebagai berikut :
1. Tinggi cita-cita. Barangsiapa yang tinggi cita-citanya maka menjadi tinggilah martabatnya.
2. Memelihara kehormatan. Barangsiapa memelihara kehormatan Allah, Allah akan memelihara kehormatannya.
3. Memperbaiki hidmat. Barangsiapa memperbaiki khidmat, ia wajib memperoleh rahmat.
4. Melaksanakan cita-cita. Barangsiapa berusaha mencapai cita-citanya, aia kan sealu memperoleh hidayah-Nya.
5. Membesarkan nikmat. Barangsiapa membesarkan nikmat Allah berarti ia bersyukur kepada Allah. Barangsiapa bersyukur kepada-Nya maka ia akan mendapatkan tambahan nikmat sebagai yang dijanjikan Allah.
C. Amaliyah dalam TQN
Amaliyah yang bersifat spiritual ini harus diamalkan oleh siapa saja yang telah menyatakan diri melallui “talqin” sebagai murid dan ikhwan bagi Guru Mursyid dalam komunitas tarekat termaksud.
1. Zikir
Zikir, secara lugawi artinya ingat, mengingat atau eling dalam bahasa sunda. Yang dimaksud dalam TQN adalah zikir bimakna khas. Zikir bimakna khas adalah “hudurul Qalbi ma’allah” (hadirnya hati kita bersama Allah). Zikir dalam arti khusus ini terbagi dua 1) zikir jahr dan 2) zikir khafi.
Baik zikir jahr maupun zikir khafi mempunyai landasan yang kuat dari al-Qur’an dan tradisi Rasulullah saw.
Dalil-dalin zikir dalam al-Qur’an
tûïÏ%©!$# tbrãä.õtƒ ©!$# $VuŠÏ% #YŠqãèè%ur 4n?tãur öNÎgÎ/qãZã_
“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring” (QS. 3 : 191)
þÎTrãä.øŒ$$sù öNä.öä.øŒr& (#rãà6ô©$#ur Í< Ÿwur Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ
“Maka berzikirlah kepada-Ku, pasti aku akan mengingat-mu,…” (QS. 2 : 152).
Dalil-dalil dzikir dalam Hadis Rasulullah saw.
“Perbaharuilah iman kamu sekalian !. para sahabat bertanya : Bagaimana cara kami memperkuat dan memperbaharui iman itu ya Rasulullah ? Rasul bersabda ialah dengan memperbanyak ucapan laailaaha illalaah”.
Syarat-syarat berdzikir ada tiga macam
1) Hendaklah orang yang berdzikir mempunyai wudu yang sempurna.
2) Hendaklah orang yang berzikir melakukannya dengan gerakan yang kuat.
3) Berdzikir dengan suara keras sehingga dihasilkan cahaya zikr di dalam abtin orang-orang yang berzikir dan menjadi hiduplah hati-hati mereka.
2. Khataman
Kata khataman berasala dri kata “khatama yakhtumu khataman” artinya selesai/ menyelesaikan. Maksud khataman dalam TQN adalah menyelesaikan atau menamatkan pembacaan aurad (wirid-wirid) yang menjadi ajaran TQN pada waktu-waktu tertentu.
3. Manakib (Manaqib)
Kata manakib merupakan kata jama dari manqabah mendapat akhiran an. Manqabah sendiri artinya babakan sejarah hidup seseorang.
Jama dari manqobah adalah manaqib. Dalam tradisi bahasa sunda kata manaqib ditambah dengan an sehingga bacaannya menjadi manaqiban yang mengandung arti proses pembacaan penggalan hidup seseorang secara spiritual. Manaqib dalam TQN adalah manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sebagai pendiri tariqat Qadiriyyah.
Manaqiban dalam TQN merupakan amalan syahriyyah artinya amalan yang harus dilakukan minimal satu bulan satu kali. Biasanya materi manaqiban terbagi pada dua bagian penting. Pertama, materi (kontens) tentang hidmah ‘amaliyah. Hidmah amaliyah ini adalah inti manaqiban itu sendiri. Substansi ajarannya ialah meliputi :
1. Pembacaan ayat suci al-Qur’an
2. Pembacaan Tanbih
3. Pembacaan Tawassul
4. Pembacaan manqabah Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani
5. Do’a
6. Tutup
Kedua hidmah ‘Ilmiyyah. Maksud hidmah ilmiyyah adalah pembahasan tasawuf secara keilmuan dan pembahasan aspek-aspek ajaran Islam keseluruhan.
Tujuan Manaqiban
1) Mencintai dan menghormati zurriyyah (keturunan) Rasulullah saw.
2) Mencintai para ulama, salihin dan para wali.
3) Mencari berkah dan syafa’at dari Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.
4) Bertawassul dengan tuan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani karena Allah semata.
5) Melaksanakan nazar karena Allah semata, bukan karena maksiat.
4. Riyadoh
Riyadoh secara etimologis artinya latihan. Dalam term tasawuf yang dimaksud riyadoh adalah latihan rohani dengan cara tertentu yang lazim dilakukan dalam dunia tasawuf. Dalam tradisi TQN, riyadoh yang paling utama adalah zdikrullah.
5. Ziarah
Ziarah menurut bahasa berasal dari akar kata zaara – yazuuru, ziyaaratan artinya berkunjung atau mengunjungi. Menurut istilah ziarah adalah mengunjungi tempat-tempat suci, atau berkunjung ke kepada orang-orang salih, para nabi, para wali, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dengan niat karena Allah.
Tujuan Ziarah, antara lain :
1) Mengingatkan kita akan kematian.
2) Mengambil pelajaran (‘ibrah) dari kehidupan manusia-manusia salih (salihin).
3) Mendo’akan kepada arwah mukminin yang sudah meninggal mendahului kita.
4) Attabarruk.
6. Khalwah
Khalwat artinya mengasingkan diri dari keramaian dunia ke suatu tempat dengan tujuan agar konsentrasi beribadah kepada Allah semata. Khalwat bagi salik mubtadi (pengamal tarekat baru) harus dibawah bimbingan Guru Mursyid. Lama masa khalwat tergantung pada bimbingan guru bisa jadi sepuluh hari, dua puluh hari hingga empat puluhhari. Paling sedikit tiga hari.
Dalam kitab Tanwir al-Qulub, Syaikh Amin Kurdi menjelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang salik yang akan berkhalwat yaitu:
1) Niat dengan ikhlas
2) Meminta izin kepada mursyidnya sekaligus memohon do’anya.
3) Didahului dengan ‘uzlah, tidak tidur malam, berpuasa dan terus berdzikir.
4) Masuk tempat khlawat mendahulukan kaki kanan dengan membaca ta’awwuz, basmalah dan membaca surat an-Nas tiga kali.
5) Dawam al-Wudlu.
6) Jangan bertujuan ingin mendapat karamat.
7) Tidak menyandar badan ke dinding.
8) Rabithah.
9) Berpuasa.
10) Diam dan terus Zikrullah.
11) Waspada terhadap godaan yang empat,syaitan, materi, nafsu dan syahwat. Dan laporkan kepada guru apa yang terjadi sewaktu khalwat.
12) Menjauhi sumber suara.
13) Salat fardu tetap berjama’ah demikian juga jum’at tidak boleh ditinggalkan.
14) Jika harus keluar maka kepala ditutup dan melihat ke tanah.
15) Jangan tidur, kecuali kalau sangat ngantuk boleh tetapi punya wudu. Tidak tidur untuk rehat badan, bahkan kalau mampu jangan sampai merebahkan badannya ke lantai tetapi tidurlah sambil duduk.
16) Tidak lapar tidak kenyang.
17) Jangan membuka pintu kepada orang yang bermaksud meminta berkah kepadanya.
18) Semua keni’matan yang dialaminya harus merasa hanyalah dari gurunya.
19) Menapikan getaran dan lintasan dalam hati, apakah getaran baik atau jelek, karena boleh jadi mengganggu kekhusuan hati.
20) Terus berdzikir dengan cara yang telah diperintahkan guru sampai guru memerintah berhenti dan keluar dari khalwat.
7. Tanbih
Secara vertikal TQN membimbing manusia menuju kepada Tuhan dan secara horizontal memberikan rambu-rambu dan prinsip-prinsip bagaimana seharusnya kita hiddup secara berjamaah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tanbih juga mengandung ajarn moral, menyangkut pelbagai kehidupan pribadi, keluarga masyarakat dan negara secara luas.
D. Hasil yang Dicapai
HM. Subandi, pakar psikologi dari Universitas Gajah Mada, telah melakukan penelitian tentang dampak kejiwaan yang timbul dari pengamalan TQN Pondok Pesantren Suryalaya.
1. Kemampuan memecahkan masalah, dari mulai masalah pribadi, keluarga, karir, polotik, ekonomi dan lain-lain.
2. Ketahanan emosional yang tinggi, meskipun mengalami berbagai situasi yang menyedihkan atau mengecewakan ia tidak mengalami gangguan mental karenanya.
3. Ketenangan batin, tidak merasa cemas atau waswas dalam menghadapi situasi yang tidak menentu.
4. Pengendalian diri yang baik (kontrol diri), tidak terbawa arus kemanapun pergi.
5. Pemahaman terhadap dirinya sendiri secara baik.
6. Menemukan jati dirinya atau dalam istilah psikologi “individuasi” karena mampu menemukan dirinya maka ia pun mampu menemuka Tuhannya.
7. Memiliki kesadaran lain atau dalam istilah psikologi disebut “altered states of consiousness” yaitu kesadaran “supernormal” (bukan para normal), yang pada umumnyadimiliki oleh orang yang berwawasan spiritual atau tungkat kerohanian tinggi.

MURSYID DAN MURID
A. Mursyid
Guru atau mursyid dalam sistem tasawuf adalah asyrafunnasi fi at-tariqoh artinya orang yang palin tinggi martabatnya dalam suatu tarekat. Mursyid mengajarkan bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memberikan contoh bagaimana ibadah yang benar secara syari’at dan hakikat. Betapa penting keberadaan guru dalam suatu tarekat, dijelaskan tidaklah benar seseorang mengamalkan suatu tarekat tanpa guru.
Mursyidlah yang mendapat izin dari Rasulullah untuk melakukan talqin az-Zikir kepada sipa saja ang mau mengamalkan zikir.
Kriteria Mursyid
a. Seorang mursyid haruslah seorang yang alim.
b. Seorang mursyid haruslah’arif.
c. Seorang mursyid harus sabar dan mempunyai rasa belas kasihan yang tinggi kepada murid-muridnya.
d. Seorang mursyid harus pandai menyimpan rahasia murid-muridnya.
e. Seorang mursyid tidak boleh menyalahgunakan kedudukan sebagai seorang guru spiritual atau orang yang paling tinggi martabatnya dalam tarekat.
f. Seorang mursyid haruslah bijaksana.
g. Seorang mursyid harus disiplin.
h. Menjaga lisan dan nafsu keeduniaan.
i. Seorang mursyid harus mempunyai hati yang ikhlas.
j. Selalu menjaga jarak antara dirinya dengan muridnya.
k. Memelihara harga diri, wibawa dan kehormatan.
l. Mursyid harus bisa memberi petunjuk tertentu pada situasi tertentu kepada muridnya.
m. Merahasakan hal-hal istimewa.
n. Mursyid selalu mengawasi muridnya dalam kehidupan sehari-hari.
o. Merahasiakan segala gerak gerik kehidupannya.
p. Seorang mursyid harus mencegah berlebihan dalm makan dan minum.
q. Seorang mursyid harus menyediakan tempat berkhalwat bagi murid-muridnya.
r. Menutup pergaulan murid dengan mursyid lainnya.
B. Murid dan kewajiban terhadap Mursyidnya
Murid secara etimologis artinya orang yang berkehendak, berkemauan dan mempunyai cita-cita. Murid dalam istilah tarekat adalah orang yang bermaksud menempuh jalan untuk dapat sampai ke tujuan yakni keridoan Allah.
Kewajiban murid terhadap mursyidnya adalah sebagai berikut :
1. Menyerahkan diri lahir batin.
2. Murid harus menurut dan mematuhi perintah gurunya.
3. Murid tidak boleh menggunjing gurunya.
4. Seorang murid tidak boleh melepaskan ikhtiarnya sendiri.
5. Seorang murid harus selalu ingat kepada gurunya.
6. Seorang murid tidak boleh memiliki keinginan untuk bergaul ;lebih dalam dengan mursyidnya, baik untuk tujuan dunia maupun akhirat.
7. Seorang murid harus mempunyai keyakinan dalam hati.
8. Seorang murid tidak boleh menyembunyikan rahasia hatinya.
9. Murid harus memelihara keluarga dan kerabat gurunya.
10. Kesenangan murid tidak boleh sama dengan gurunya.
11. Seorang murid tidak memberi saran kepada gurunya.
12. Seorang murid tidak boleh memandang kekurangan gurunya.
13. Seorang murid harus rela memberikan sebagian hartanya.
14. Seorang murid tidak boleh bergaul dengan orang yang dibenci gurunya.
15. Seorang murid tidak boleh melakukan sesuatu yang dibenci gurunya.
16. Seorang murid tidak boleh iri kepada murid lainnya.
17. Segala sesuatu yang menyangkut pribadinya harus mendapat izin dari gurunya.
18. Tidak boleh duduk pada tempat yang biasa dipakai duduk oleh gurunya.
C. Adab Murid terhadap Dirinya Sendiri
1. Meninggalkan pergaulan dengan orang-orang yang jahat, sebaliknya bergaul dengan orang-orang pilihan.
2. Jika hendak berzikir padahal ia telah memiliki keluarga dan telah beranak maka seyogyanya menutup pintu yang dapat menghalangi antara dia dengan istri dan anaknya.
3. Meninggalkan sikap berlebihan baik dalam urusan makan, minum, pakaian, hubungan suami istri.
4. Meninggalkan cinta dunia dan berfikir tentang kehidupan akhirat.
5. Tidak tidur dalam keadaan junub, tetapi sebaliknya selalu dalam keadaan suci punya wudu.
6. Tidak boleh toma (berharap) kepada apa yang ada di tangan manusia lain.
7. Jika rizki sulit didapat, dan hati manusia keras kepadanya, amka bersabarlah, sebab boleh jadi hara dunia berpaling dari murid ketika ia masuk dalam tarekat.
8. Hendaklah ia melakukan muhasabah (intropeksi) dan mendorong jiwanya untuk mengamalkan tarekat.
9. Menydikitkan tidur, terutama di waktu sahur sebab ia adalah waktu ijabah.
10. Menjaga diri agar hanay makan yang hala.
Dan lain-lain …
D. Adab Murid terhadap Sesama Ikhwan atau terhadap Muslim yang lain
1. Mencintai ikhwan tarekat seperti ia mencintai dirinya sendiri.
2. Memulai mengucapkan salam, bersalaman dan berbicara dengan bahasa yang menyenangkan jika bertemu sesama ikhwan.
3. Bergaul sesama ikhwan dengan akhlak yang baik.
4. Bersikap tawadu’ kepada ikhwan.
5. Mencari keridaan mereka dan anda harus memandang mereka lebih baik dari pada anda sendiri, selanjutnya saling menolong dalam kebaikan dan takwa, mencintai Allah dan mendorong mereka dalam apa yang diridai Allah dan anda menunjuki mereka ke jalan yang benar.
6. Menaruh kasih kepada semua ikhwan, hormat kepada yang lebih besar dan sayang kepada yang lebih muda.
7. Bersikap simpatik dan halus dalam upaya menasihati ikhwan jika meraka melakukan pelanggaran.
8. Berbaik sangka kepada ikhwan.
9. Hendaklah menerima permintaan maaf ikhwan yang lain apabila ia minta maaf meskipun ia berdusta, sebab orang yang meminta maaf kepadamu secara terbuka meskipun batinnya marah maka sesungguhnya orang itu telah taat kepadamu dan telah menghormatimu.
10. Mendamaikan dua ikhwan yang bermusuhan.
11. Bersikap benar kepada sesama ikhwan dalam segala kondisi dan jangan lupa mendo’akan mereka dengan ampunan meskipu mereka gaib (tidak ada dihadapan kita).
12. Memberi kelapangan mereka dalam majelis.
13. Bertanya tentang nama kawan kita sekaligus nama ayahnya.
14. Mempertahankan harga diri ikhwan dan menolong mereka meskipun sedang tidak dihadapan kita.
15. Menunaikan janji apabila ia berjanji, sebab sesungguhnya janji termasuk salah satu dari dua pemberian, menurut Ahlussunnah ia adalah utang.
E. Waliyullah
Waliyullah artinya kekasih Allah, orang-orang yang dicintai Allah. Ia selalu diberi hidayah oleh Allah untuk beramal salih dan berdakwah, ia adalah orang-orang salih yang beramal dengan ikhlas.
F. Tanda-tanda Wali Allah
1. Jika kita melihat mereka, mereka mengingatkan kita kepada Allah.
2. Jika mereka tiada, tidak pernah orang-orang mencarinya.
3. Mereka bertaqwa kepada Allah.
4. Mereka saling menyayangi dengan sesamanya.
5. Mereka selalu sabar, wara’ dan berakhlak mulia.
6. Mereka hidup zuhud di dunia.
7. Mereka selalu terhindar ketika ada bencana.
8. Hati mereka selalu terkait kepada Allah.
9. Mereka suka terbiasa bermunajat di akhir malam.
10. Mereka suka menangis dan berzikir mengingat Allah.
11. Jika meraka menghendaki sesuatu, Allah memenuhi keinginannya.
12. Keinginan mereka dapat menggoncangkan gunung.
Karamah
Karamah adalah kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada para wali. Hal itu diberikan sebagai hiburan atau santunan, atau pembekalan ilmu atau sebagai ujian.
Manfaat Karamah
1) Dapat menambah keyakinan kepada Allah.
2) Mengkokohkan kepercayaan masyarakat kepada seorang wali.
3) Adanya karomah merupakan bukti anugrah atau derajat yang diberikan Allah kepada seorang wali, agar pengabdiannya tetap istiqamah.
G. Perbedaan antara Kenabian dan Kewalian
Kenabian adalah jabatan spritual yang diberikan Allah kepada orang-orang pilihan dengan cara Allah memberikan wahyu kepadanya, sementara kewalian adalah kasih sayang Allah kepada orang-orang tertentu karena ia berusaha mujahadah taqarub kepada-Nya sehingga memberikan ilham kepada-Nya.
Kenabian adalah kalam yang datang dari Tuhan sebagai wahyu, bersama-sama ruh dari Tuhan, sebagai wahyu yang dinyatakan dan diperkuat dengan ruh. Kewalian adalah orang dimana Tuhan mempercayakan (waliyah) hadis-Nya. Tuhan membawa wali kepada diri-Nya dengan cara yang berbeda, dan dia mempunyai hadis.
Bukti-bukti Kenabian
Sebagai salah satu indikator pengakuan seseorang sebagai nabi dan rasul adalah adanya mu’jizat. Mu’jizat adalah kejadaian luar biasa yang diberikan Allah kepada seorang nabi atau rasul untuk menguatkan kenabian dan kerasulannya.
Syarat-syarat Mu’jizat
1. Mu’jizat, datangnya harus dari Allah sebagai kejadian luar biasa untuk menguatkan kenabia atau kerasulan seseorang.
2. Mu’jizat harus berupa kejadian luar biasa sehingga tidak ada yang dapat meniru.
3. Mu’jizat harus muncul dari seorang nabi agar dapat dijadikan bukti bagi risalahnya.
4. Mu’jizat harus diiringi dengan pengakuan kenabian, baik secara hakekat atau hukum. Biasanya didahului dengan kejadiaan luar biasa yang disebut irhash.
5. Mu’jizat harus sesuai dengan situasi dan kondisi di masa timbulnya, kalau tidak, maka pungsinya berubamenjadi ihanah, seperti yang terjadi pada Musilamah al-Kazzab.
6. Para penentang risalah tidak bisa mendatangkan yang sepertinya, jika bisa, maka mu’jizat itu palsu.
7. Mu’jizat boleh bertentangan dengan hukum alam.
Ma’unnah, Ihanah, Istidraj, Irkhas, Sihir, Sya’udah dan Garaib al-Mukhtari’ah.
Ma’unah adalah kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada orang awam untuk melepaskan dirinya dari kesulitan.
Ihanah adalah kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang pembohong yang mengaku sebagai nabi, seperti yang pernah diberikan kepada Musailamah al-Kazzab.
Sedangkan Istidraj adalah kejadian luar biasa yang diberikan kepada orang fasik yang mengaku sebagai wakil Tuhan dengan mengemukakan berbagai dalil untuk menguatkan kebohongannya. Adapaun Irkhas adalah kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada calon nabi.
Sihir adalah suatu cara yang dapat menampilkan berbagai perbuatan yang aneh bagi yang tidak mengerti seluk beluknya, tetapi sebenarnya seluk beluknya itu dapat dipelajari.
As-Sya’udah adalah kejadiaan ;luar biasa yang biasa timbul di tangan seseorang, sehingga menampakan pesona dan kekaguman bagi yang melihatnya, meskipun kejadian itu tidak terjadi.
Garaib al-Mukhtariah adalah karya atau ucapan manusia disebabkan ilmu pengetahuan dan teknologi tertentu, seperti radio, televisi dan telepon, hp dan lain-lain.
TARIQAH QADIRIYYAH NAQSYABANDIYYAH
Sebagaimana telah disinggung di atas, kelahiran Tariqah
Qadiriyyah Naqysabandiyyah (TQN) tidak dapat dilepaskan dari
ketokohan Syekh Ahmad Khatib al-Sambasi yang dianggap
sebagai pendirinya. Dia berasal dari Kampung Dagang (ada yang
mengatakan dari Kampung Asam) di daerah Sambas Kalimantan
Barat. Nama lengkapnya: Syekh Ahmad Khatib ibn Abdl al-
Gaffar al-Sambasi al-Jawi. Tidak ada catatan bilakah dia
dilahirkan. Tetapi sejak perempat kedua abad ke-19 M. dia
menetap di kota suci Mekah sampai akhir hayatnya pada tahun
1875 M. Di kota suci inilah dia belajar pelbagai ilmu agama Islam
hingga dia menjadi seorang ulama besar yang mengajar di Masjidil
Haram Mekah. Di antara gurunya ialah Syekh Daud ibn Abdullah
al-Fathani, seorang ulama besar penyusun pelbagai kitab di bidang
fiqh, ushuluddin, dan tasawuf, yang hidup di Mekah semasa dengan
Syekh Muhammad Arsyal al-Banjari (W. 1812 M.) dan Syekh Abd
al-Shamad al-Falimbani (W. 1800 M.) Selama mengajar di Mesjid
al-Haram, Ahmad Khatib Sambas juga banyak mempunyai
murid yang terkenal. Di antaranya ialah Syekh Nawawi al-
Bantani, pengarang banyak kitab agama dan dijuluki sebagai
“Sayyid ‘Ulama al-Hijaz(pemimpin para ulama di Hejaz).
Ketokohan Syekh Ahmad Khatib Sambas yang menonjol
adalah di bidang tasawuf. Banyak “legenda” yang beredar di
masyarakat tentang kekeramatannya sejak kecil. Snouck
Hurgronje mencatat dalam bukunya “Mekkah in the later part of
the Nineteenth Century” bahawa Khatib Sambas sebagai
pemimpin tertinggi Tariqah Qadiriyah yang berpusat di Mekah
waktu itu. Menurut Naquib al-Attas, dia juga seorang syeikh
(pemimpin) Tariqah Naqsyabandiyah di samping kedudukann
sebagai seorang syeikh Tariqah Qadiriyyah. Sebagai pemimpin
tertinggi Tariqah Qadiriyyah di Mekah, dia menggantikan
gurunya, Syeikh Syamsuddin, yang telah mengangkat Khatib
Sambas sebagai “mursyid” yang akan menggantikannya bila dia
wafat. Dengan status inilah, dia banyak mempunyai murid-murid
pemimpin tariqah yang menyebarkan Tariqah Qadiriyyah
Naqsyabandiyyah di Nusantara pada abad ke-19 M.
Sebagai pemimpin tariqah, Syeikh Ahmad Khatib Sambas
menulis sebuah buku berjudul Fathul Arifin, yang berisi pedoman
praktikal bagi para pengikutnya dalam mengamalkan tariqahnya.
Dalam kitab tersebut, terdapat penegasan pengarangnya bahawa
tariqahnya berdasarkan atas lima macam tariqah, yaitu:
Naqsyabandiyah, Qadiriyah, Anfasiyah, Junaydiyah, dan
Muwafaqah. Kelima macam tariqah tersebut masing-masing
mempunyai keunikan, yang digunakan dalam tariqah ini.
Naqsyabandiyah dengan zikir khafi (diam)nya, Qadiriyyah dengan
zikir jahar (nyaringnya), Anfasiyah dengan zikir peredaran nafas,
Junaydiyah dengan zikirnya pada setiap hari selama seminggu
dengan lafaz-lafaz tertentu, dan Muwafaqah dengan zikir Asma ul-
Husna. Semuanya mendapat tempat dalam pengamalan tariqah
ini (TQN). Mungkin karena inti pengamalan tariqah ini pada zikir
jahar dan zikir khafi pada setiap habis shalat fardhu yang keduanya
merupakan inti ajaran Tariqah Qadiriyyah dan Naqsyabandiyah,
maka tariqah ini dinamai TQN. Penonjolan kedua tariqah tersebut
juga tampak dalam “tawassul” yang digunakan dalam tariqah ini.
Khusus untuk kalangan para syekh dalam Tariqah Qadiriyyah
disebutkan lebih dahulu antara lain: Syekh ‘ Abd al-Qadir al-Jilani,
Abu al-Qasim al-Baghdadi, Siri al-Saqathi, Ma’ruf al-Karkhy;
sedangkan khusus untuk kalangan para syekh dalam Tariqah
Naqsyabandiyah disebutkan sesudahnya, antara lain: Syekh Abu
Yaid al-Bisthami, Yusuf al- Hamdany, Bahauddin al-Naqsyabandi
dan Al-Imam al-Rabbany (Syekh Ahmad Faruqi Sirhindi).
Mendahulukan nama Qadiriyah daripada nama Naqsyabandiyah.
Dalam nama tariqah ini (TQN) juga berdasarkan silsilah yang
digunakan Khatib Sambas, sewaktu mengajarkan ajaran tariqah
kepada para muridnya. Para murid inilah yang mengembangkan
tarekat ini di Indonesia dengan bersumber pada silsilah Tariqah
Qadiriyah, bukan Naqsyabandiyah. Dalam silsilah tersebut
ditegaskan bahawa dia (Khatib Sambas) menerima dari Syekh
Samsudin dari Syekh Muhammad Murad dari Syekh Abdul
Fattah daTi Syekh ‘Usman daTi Syekh , Abd aI-Rahim Syekh
Abu Bakar dari Syekh Nuruddin dari Syekh Syarf al-Din dari
Syekh Syamsuddin dari Syekh Muhammad Hataak dari Syekh
Abd al-’ Aziz dari Syekh Abd al-Qadir al-Jaylani dari Syekh Abi
Sa’id al-Mahzumi dari Syekh Abi Hasan al-Hakari dari Syekh Abu
al-Faraj al- Thartusyi dari Syekh Abd al- Wahid al- Tamimi dari
Syekh Abu Bakar al- Syibli dari Syekh Abu al-Qasim Junayd al-
Baghdadi dari Syekh Sari al- Saqathi dari Syekh Ma’ruf al-Karkhi
dari Syekh Abu al-Hasan’ Ali al- Ridha dari Musa al-Kazhim dari
Ja’far al-Shadiq dari Muhammad al-Baqir dari Zainal Abidin dari
Husin ibn Ali dari Ali ibn Abi Thalib dari Nabi Muhammad saw.
Dengan demikian, jelaslah bahwa Tariqah Qadiriyyah
Naqsyabandiyyah (TQN) adalah Tariqah Qadiriyah yang
dikembangkan oleh Syekh Ahmad Khatib as-Sambasi dengan
mengambil beberapa bentuk amalan dari pelbagai tariqah lainnya,
terutama dari Tariqah Naqsyabandiyah, yang juga pernah
diterimanya.
RIWAYAT SINGKAT SYEIKH TOLHAH BIN THOLABUDDIN
�� Lahir di Desa Trusmi, kecamatan Weru, Kabupaten
Cirebon di perkirakan tahun 1825.
�� Ayahnya bernama KH. Tolabuddin, lahir di Desa Trusmi
putera dari KH. Radpuddin keturunan Pangeran Trusmi
putera Sunan Gunungjati.
�� Mengikuti pendidikan agama, diawali di Pesantren
Rancang (pesantren ayahnya), kemudian melanjutkan ke
Pesantren Ciwaringin (semuanya masih diwilayah
Kabupaten Cirebon) kemudian melanjutkan ke Pesantren
Lirboyo di Ponorogo-Jawa Timur, kemudian meneruskan
di Gresik-Jawa Timur, dari Gresik pulang dahulu
mengajar di Pesantren Rancang mrmbsntu ayahnya.
Selanjutnya pergi menunaikan ibadah Haji dan terus
mukim di Mekkah, mempelajari Tasawuf dan Tariqah
dari Syekh Ahmad Khatib Sambas Ibn. Abdul Gaffar
khusus tentang Tariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah
(TQN) hingga mencapai kedudukan sebagai wakil Talqin
dan membantu Syekh Ahamd Khatib Sambas beberapa
waktu lamanya.
�� Diperkirakan tahun 1873 kembali dari Mekah mengajar
di Pesantren Rancang.
�� Sekitar tahun 1876 mendirikan pesantren di Begong,
Desa Kalisapu, Kabupaten Cirebon.
�� Berangkat ke Mekah untuk kedua kalinya, kembali dari
Mekah berhenti beberapa waktu lamanya di Singapura
kerana kapalnya rusak. Sempat memberi pelajaran
tentang TQN di Singapura.
�� Dari pernikahan dengan isteri-isterinya dikaruniai anak 18
laki-laki, 8 perempuan dan punya cucu 69 orang
(sebagian kecil masih hidup)
�� Menjadi penasihat dan pembimbing keagamaan di
Kesultanan Kasepuhan Cirebon, Bupati Kuningan 1892
dan bagi para pejabat tinggi pemerintahan dan para
bangsawan di Cirebon.
�� Meninggal dunia tahun 1935 dimakamkan di kompleks
pemakaman Gunungjati.

RIWAYAT SINGKAT SYEKH ABDULLAH MUBAROK
BIN NUR MUHAMMAD (ABAH SEPUH)
�� Lahir sekitar tahun1836 di Kampung Cicalung, Desa
Bojongbentang Kecamatan Pagarageung, Kabupaten
Tasikmalaya.
�� Ayahnya bernama Rd. Nur Muhammad alias Nurpraja
alias Eyang Upas. Ibunya bernama Ny. Emah
�� Mengikuti pendidikan agama pertama kali di Pesantren
Sukamiskin (Kabupaten Bandung). Setelah mendirikan
Pesantren Tundangan dekat Kota Tasikmalaya kemudian
melanjutkan menambah ilmu, iaitu memperdalam ilmu
Tasawuf dan Tariqah kepada Syekh Tolhah di Begong,
Kalisapu dan Trusmi di Cirebon selama 23 tahun.
�� Berkunjung ke Syekh Kholil di Madura sambil
menambah ilmu atas ajaran syekh Tolhah.
�� Mendirikan pesantren Godebag yang kemudian diganti
menjadi Suryalaya tahun 1905 atas saran Syekh Tolhah.
�� Diangkat sebagai Wakil Syekh Tolhah, kemudian
ditetapkan sebagai penggantinya sekitar tahun 1900.
Pelantikan dilaksanakan di rumah Syekh Tolhah di
Trusmi (dekat dengan Pangeran Trusmi putera Sunan
Gunungjati)
�� Tahun 1935 Syekh Mubarok secara definitif sebagai
Khalifah TQN di Jawa Barat berkedudukan di Suryalaya-
Tasikmalaya
�� Beberapa kali pergi Haji dan pernah bermukim di Mekah
sekalipun tidak lama.
�� Memilki keahlian dalam bidang pertanian, pengarian dan
perkikanan di luar ilmu agama. Irigasi pedesaan sepanjang
2 km berhasil dibangun.
�� Menjadi guru, pembimbing dan penasehat Bupati
Tasikmalaya, Ciamis dan Bandung tahun 1910 hingga
tahun 1930 serta para pejabat tinggi pemerintah dan
perwira TNI pada masa perang kemerdekaan 1945-1949
dan berlanjut hingga tahun 1956.
�� Berhasil mengusahakan pembuburan Negara Pesundan
dan Republik Indonesia serikat tahun 1950 serta
mengembalikan Pemerintah Propinsi Jawa Barat Republik
Indonesia dengan dipimpin Gubernur Sewaka.
RIWAYAT SINGKAT SYEIKH KIYAI H AHMAD
SHOHIBULWAFA TAJUL ARIFIN (ABAH ANOM)
�� Lahir tanggal 1 Januari 1915 di Kampung Godebag/
Suryalaya, Desa Tangjungkerta, Kecamatan Pagarageung,
Kabupaten Tasikmalaya.
�� Ayahnya bernama Syekh H. Abdullah Mubarok Bin Nur
Muhammad, Ibunya bernama Hj. Juhriyah.
�� Mengikuti pendidikan umum di Sekolah Dasar Zaman
Belanda (Vervoleg School) di Ciamis (1923-1929), masuk
Madrasah Tsanawiyah di Ciawi Kabupaten Tasikamalya
(1929-1931), menambah ilmu agama di Pesantren
Cicariang di Kabupaten, Cianjur, kemudian di Gentur –
Cianjur, kemudian ke Jambudiba –Cianjur, kemudian di
Pesantren Cireungas-Cimalati Kabupaten Sukabumi
(khusus ilmu Hikmat, ilmu tarekat dan ilmu beladiri,
Silat) dari KH. Aceng Mumu, kemudian di Pesantren
Citengah –Panjalu Kabupaten Ciamis.
�� Melaksanakan riyadah dan ziarah ke makam para wali
atas perintah ayahnya sambil menimba ilmu di Pesantren
Kaliwungu-Kendal-Jawa Tengah, kemudian di Bangkalan
Madura bersama kakak kandungnya H.A Dahlan dan
wakil Abah Sepuh KH Pakih dari Talaga Majalengka.
Kandungan
Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya 271
�� Tahun 1938 menunaikan ibadah haji ke Mekah bersama
KH. Simri Hasanudin (keponakannya yang kemudian
menjadi Kepala Desa Tanjungkerta)
�� Di Mekah selama 7 bulan memperdalam ilmu Tasawuf
dan Tariqah kepada Syekh H. Romli asal Garut, wakil
Abah Sepuh yang mukim di Jabal Gubeys, Mekah.
�� Tahun 1939 membantu ayahnya mengajar di Pesantren
Suryalaya, 1945-1949 turut berjuang menegakkan
kemerdekaan.
�� Tahun 1953 ditugaskan memimpin Pesantren Suryalaya
sekaligus diangkat sebagai wakil Abah Sepuh.
�� Tahun 1953-1962 turut aktif mengatasi gangguan
keamanan yang diakibatkan oleh gerombolan DI/TII
Karto Suwiryo bersama pasukan TNI Yon 329/11 April
Resimen Gunungjati. Mendapat penghargaan atas jasa di
bidang keamanan.
�� Tahun 1962-1995 aktif membantu pemerintah
melaksanakan pembangunan dalam bidang : Pertanian,
Pendidikan, Lingkungan Hidup, Sosoial, Kesehatan,
Koperasi dan Politik. Banyak menerima penghargaan dari
pemerintah untuk bidang-bidang tersebut, seperti Satya
Lencana Bakti Sosial, Kabupaten dan lain-lainnya.
�� Sejak tahun 1980 hingga sekarang telah membangun 22
Inabah (Rehabilitasi remaja korban Narkotika) dan
menyembuh +9000 remaja sakit akibat Narkotika,
Inabah tersebar di Singapura dan Malaysia.
�� Berhasil mengembangkan TQN ke luar negara
(Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand)

TUJUAN TARIQAH QADIRIYYAH NAQSYABANDIYYAH
Setidaknya ada empat ajaran pokok dalam TQN, iaitu
�� Kesempurnaan suluk
�� Adab murid terhadap mursyid
�� Zikrullah
�� Muraqabah
Tetapi inti ajaran TQN adalah Muraqabah ertinya
mendekatkan diri ke-pada Allah dengan ajaran berbagai amalan
dan Riyadhah; yang paling prinsip adalah dengan cara berzikir,
sebagaimana sabda Imam Ali:
“Cara terbaik dan tercepat untuk sampai kepada Allah adalah
zikrullah.”
Secara skema, sanad dan silsilah TQN dapat dilihat dalam
rajah berikut:
1. Allah swt
2. Jibril ‘alaihissalam
3. Muhammad saw
QADIRIYYAH NAQSYABANDIYYAH
4. Ali bin Abu Thalib 4. Abu Bakar Siddiq ra.
5. Husain Ibn ‘Ali 5. Salman Al-Farisi
6. Zainal Abidin 6. Qasim Ibnu Muhd Ibn Abu
Bakar
7. Muhammad Baqir 7. Imam Ja’far Al-Sadiq
8. Ja’far Al-Sadiq 8. Abu Yazid al-Bustam
9. Musa Al-Kazhim 9. Abu Hasan Kharqani
10. Ali Ibnu Musa al-Ridha 10. Abu Ali Al-Farmadi
11. Ma’ruf al-Karkhi 11. Syekh Yusuf Al-Hamdani
12. Sirri Al-Saqati 12. Abdul Khaliq Al-Gazdawi
13. Abu Al-Kasim Junaid 13. Arif Riya Qari
Al-Baghdadi
14. Abu Bakar Al-Sibli 14. Muhammad Anjari
15. Abdul Wahid Al-Tamimi 15. Ali Ramli Tamimi
16. Abu Al-Farraj Al-Turtusi 16. M. Baba Sammasi
17. Abdul Hasan Ali Al- 17. Amir Kulaili
Karakhi
18. Abu Sa’id Mubarok 18. Bahaudin an-Naqsyabandi
Al-Majzumi
19. Syekh Abdul Kadir 19. M. Alauddin al-Tari
Al-Jailani
20. Abdul Aziz 20. Ya’qub Jareki
21. M. Mattaq 21. Ubaidillah Ahrari
22. Syamsuddin 22. M. Zahidi
23. Syarifuddin 23. Darwisi Muhammad
Baqibillah
24. Nuruddin 24. A. Faruqi Al-Sirhindi
25. Waliyuddin 25. Al-Maksum al-Sirhindi
26. Hisyamuddin 26. Saifuddin Afif
Muhammad
27. Yahya 27. Nur Muhammad Badawi
28. Abu Bakar 28. Syamsuddin Habibullah
Janjani
29. Abdul Rahim 29. Abdullah Al-Dahlawi
30. Usman 30. Abu Said Al-Ahmadi
31. Abdul Farrah 31. Ahmad Said
32. Muhammad Murad 32. M. Jan Al-Makki
33. Syamsuddin 33. Khalid Hilmi
34. A. Khatib Al-Sambasi
35. Syekh Tolhah Cirebon
36. Abdullah Mubarok Bin Nur Muhammad (Abah Sepuh)
37. KH Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom)

1 Komentar:

Pada 23 Oktober 2010 09.49 , Blogger IDAROH SYU'BIYYAH SUKOHARJO mengatakan...

Naskah yang anda post bagus, . dari naskah anda saya jadi mengetahui tentang asal jaga kesopanan realigi

annisaa
ulfa
laila

 

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar Asal Jaga Kesopanan Religi

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda