Minggu, 29 Mei 2011

WEJANGAN HABIB LUTHFI TENTANG DEMOKRASI

Nasionalisme; Dalam Kearifan Jawa

Surel Cetak PDF
Demokrasi kita masih sangat muda, masih seperti bayi  baru lahir, atau jika diandaikan dengan strata sekolah, maka Demokrasi kita baru sampai kelas TK (Tingkat Kanak-kanak). Tak ada yang salah memang semuanya membutuhkan proses, jika dibandingkan Negara-negara maju, bangsa kita berkenalan demokrasi belumlah lama.
Yang penting adalah bahwa Nasionalisme itu bukan milik golongan atau partai politik tertentu, tapi milik dan ruh kehidupan seluruh komponen bangsa. Sehingga Nasionalisme itu tidak bersifat politis, atau bukan Nasionalisme politis. Nasionalisme itu didasari rasa Handar Beni, handar beni itu lebih luas dan lebih dalam dari sekedar memiliki. Rasa itulah yang harus ditanam dan dijiwai oleh kita semua; perasaan yang lebih dalam dari sekedar memiliki. Sebab jika hanya merasa memiliki, sewaktu-waktu kita akan berani menjualnya. Seperti banyak perusahaan BUMN, atau milik Negara yang dijual.

Sekarang ini kita mencari priayi-priayi yang bukan hanya priayi sing priyoto tapi juga sasmito.  Kita mencari para pemimpin, para pejabat, yang bukan hanya pantas jadi orang terhormat, tapi juga bijaksana. Ini hanya untuk contoh saja, jika seorang Gubernur yang akan membangun daerahnya, maka lebih baik mbangun jiwo (membangun jiwa; pendidikan, keterampilan, tanggung jawab dll) bukan hanya mbangun rogo (bukan hanya membangun infra stuktur atau fisiknya saja).

Oleh karena itu saya tidak mendukung sesorang yang mencalonkan diri pada tingkat jabatan tertentu secara pribadi. Saya lebih menghargai mereka sebagai aset bangsa, yang bisa berkiprah dengan caranya sendiri-sendiri.

Dalam pewayangan ada tiga sosok yang saya kagumi; Bimo, Krisno, Semar. Tiga orang ini adalah orang terpandang, lugu, dan priyayi sing mandito, pejabat atau orang terhormat yang selalu menjaga batiniyahnya.

Semar itu simbol kerakyatan. Rakyat yang dapat sama-sama membangun daerahnya, dengan menjaga hubungan kemasyarakatan, tetua masayarakat yang bijaksana dan mengajak rakyat menghormati para pejabat pemerintahan. Kresno adalah simbol keraton, Krisno mandito sajeroning noto, memimpin, membangun Bangsa dan Negara sekalgus membangun hubungan intim dan mendalam dengan Tuhan. Ini mengindikasikan, bahwa upaya pembangunan yang tidak dimulai dari diri sendiri dan tidak menyeluruh (integral) akan jauh dari keberhasilan. Dan kemudian Arjuno. Arjuno ini adalah jejeging bumi. Orang yang dalam hidupnya dicurahkan menjaga ketertiban dan stabilitas Nasional, stabilitas Negara.

Dalam satu wilayah satu Negara harus ada yang menjadi Krisno, ratu ingkang noto sajeroning mandito, harus ada Arjuno, jejeging bumi, dan harus Ada Semar simbol priayi yang merakyat. Wal hasil, noto ora sajeroning mandito, iku ora iso, sebabe ngurus masyarakat iku urusane ati, membangun, menjalankan tampuk pemerintahan, tidak disertai dengan mandito,  itu tidak bisa, sebab memimpin masyarakat itu bukan hanya urusan lahir tetapi urusan hati.
Dengan kepmimpinan seperti ini akan menimbulkan Handar Beni, dalam hati rakyat. Satu perasaan yang mempunyai arti dan implikasi yang lebih mendalam dari sekedar rasa memiliki. Mencintai, menghorati pemimpinnya, bangsanya, dan tanah airnya. Itula Nasionalisme sesungguhnya. Nasionalisme yang sehat, bukan Nasionalisme sektoral, atau Nasionalisme temporal. (Al Habib Luthfi bin Yahya: 28/02/2011. Tsi)

0 Komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar Asal Jaga Kesopanan Religi

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda