Kamis, 05 Mei 2011

KETIKA SAATNYA TIBA

Cinta Rasulullah

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung burung gurun enggan mengepakkan sayap.  Pagi itu Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasihNya.  Maka taati dan bertaqwalah kepadaNya.  Kuwariskan 2 hal pada kalian, Al Quran dan Sunnahku.  Barangsiapa mencintai sunnahku, berarti mencintaiku dan kelak orang yagn mencintaiku akan bersama sama masuk surga bersamaku”
Kutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabanya satu persatu.  Abu Bakar menatap mata itu dengna berkaca kaca.  Umar dadanya berdegubkencang menaha napas dan tangisnya.  Utsman menghela napas panjang.  Ali menundukkan kepala dalam dalam…..Isyarat itu telah datang, saatnya telah tiba.
“Rasulullah akan meninggalkan kita semua” desah hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.  Tanda tanda itu semakin kuat tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun mimbar.
Saat itu seluruh sahabat yang hadir serasa Manahan detik detik berlalu.  Matahari kian tinggi, tetapi pintu Rasulullah masih tertutup.  Di dalamnya Rasulullah sedang terbaring lemah dengan kening berkeringat dan membasahi pelepah kurma yagn menjadi alas tempat tidurnya.
Tiba tida dari luar pintu  terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.  “Bolehkah saya masuk?” tanyanya.
Tetapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk.
“Maafkanlah, tetapi ayahku sedang demam” kata Fatimah sambil membalikkan badan dan menutup pintu.  Kemudian dia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membukakan mata dan beratnya pada Fatimah.
“Siapakah itu, wahai putriku?”
“Aku tidak kenal ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut.  Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.  Satu satu garis wajahnya seolah hendak di kenang.  “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.  Dialah malaikat maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.  Malaikat maut datang menghampiri, tetapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai.  Kemudian dipanggilah Jibril yagn sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut  ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara lemah.
“Pintu pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.  Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.  Tetapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya’” kata Jibril.  Detik detik semakin dekat, saatnya Izrail melaksanakan tugas.  Perlahan ruh Rasulullah di tarik.
Tamapak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat urat lehernya menegang.  “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini’ lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali disampingnya menunduk kian dalam dan Jibril membuang muka.
“jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?’ Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah di renggut ajal” kata Jibril.  Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dasyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku”
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi.  Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya, ‘Ushikum bi ash shalati wa ma malakat aimanukuk’ Peliharalah shalatmu dan santuni orang orang lemah di antaramu.
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat sahabat saling berpelukan.  Fatimahmenutup wajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasul yagnmulai kebiruan.  ‘Ummati ummati ummati’ dan pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.
Siapakah yang disapa lembaut Rasulullah pada detik detik akhir hayatnya? Umatku…umatku…umatku…  Inilah Nabi yang membasahi janggutnya dengan air mata akrena memikirkan derita umat sepeninggalnya, yagn merebahkan dirinya di atas tanah dan mengangkatnya sebelum Allah mengizinkannya untuk memberikan syafaat kepada umatnya, yang suka dukanya terpaut dengan umat yang dipimpinnya.
‘Telah datang kepadamu seorang rasul dari kalanganmu sendiri.  Berat baginya apa yag kamu derita, sangat ingin agar kamu mendapatkan kebahagiaan.  Ia sangat pengasih dan penyayang kepada orang orang yang beriman’ (QS At Taubah, 9:128)

Begitu besar cinta Rasul kepada umatnya.  Begitu dalam kasih sayangnya kepada kita semua.  Kini, mampukah kita membalas cinta sucinya?
Sumber http://www.nabimuhammad.info/2009/02/06/cinta-rasulullah/

0 Komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar Asal Jaga Kesopanan Religi

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda