Selasa, 30 November 2010

PANGERAN DIPONEGORO

DIPONEGORO di SUMENEP

MAKAM DIPONEGORO di SUMENEP
Madura. Sepatah kata ini terasa dekat dengan sesuatu yang berbau kekerasan. Identik dengan clurit (senjata tajam khas Madura) atau Carok (kekerasan atau pembuhunan yang berlatar belakang harga diri). Madura meiliki kultur tinggi dimasa lalu yang diwarnai dengan kelembutan dan kehalusan. Wilayah ini terdiri dari 67 pulau. Pulau Madura sendiri terkenal dengan lamanya yang keras berupa tanah jenis mediteran merah kuning yang tandus, sebagian lainnya berupa tanah bebatuan yang sulit ditanami.
Saya mulai perjalanan ini dari Jakarta menuju Surabaya dan menyeberang dengan Feri. kelak jika jembatan SURAMADU selesai dibangun, perjalanan menyeberangi selat Madura hanya 5 menit. Perjalanan dari Surabaya hingga ke Ujung timur Madura melewati Bangkalan, Sampang, Pamekasan kemudian Sumenep.
Dengan dukungan dari Dinas Kebudayaan setempat, tim saya bisa mendapat akses memasuki tempat-tempat yang memerlukan perizinan. sesuai dengan tujuan kami yaitu membuktikan fakta sejarah bahwa Pangeran Diponegoro yang dimakamkan di Makasar bukanlah Pangeran Diponegoro yang sebenarnya, tetapi hanya anak buah Sang Pangeran yang menyamar kemudian ditangkap Belanda dan mengaku sebagai Sang Pangeran. Hasil penelitian kami dibeberapa tempat mendapatkan hasil sejarah yang dipercayai oleh masyarakat Sumenep.
Pangeran Diponegoro menurut versi ini wafat dalam pelarian di Sumenep. dibuktikan dengan ditemukannya makam Sang Pangeran dan beberapa keluarganya di Asta Tinggi Sumenep. antara lain R. Dipokusumo, R Diponegoro Anom dan RA Endang Kaliangi. Mereka adalah putra-putri Sang Pangeran.
Diponegoro mengelabui Belanda, kebetulan kebiasaan Diponegoro memang tak gemar memperlihatkan roman mukanya. Sebelum perundingan di Magelang, penukaran Sang Pangeran dilakukan di KaliProgo pada 25 Maret 1830, 2 hari menjelang perundingan. Menurut Harunur Rasyid yang ditangkap ketika terjadi perundingan adalah Muhamad Jiko Matturi, Beliaulah yang akhirnya meninggal di Makasar pada 8 Januari 1855. Diponegoro yang sebenarnya ada di Sumenep atas perlindungan Sultan Abdurahman ketika itu.
Pada prasasti yang juga ditemukan di sekitar Asta Tinggi ada bunyinya " Jie’ sengak, tep, makam, budi, sekar, naggar, langgar, Joyo Abdur bi’ Rahman ". Ini kata-kata sandi yang setelah diotak-aitk akhirnya dapat dibaca : " Sengak teteban Sumenep, makam e budi dajana Abdurahman, neng guru langgar sekkare". Artinya kira-kira " Awas perhatikan titipan Sumenep, kuburan di belakang sebelah utara Abdurahman ".
Makam itu sendiri dulunya hanya dikenal dengan nama Buyud sayid. tak ada yang istimewa dari makam ini. Bahkan makam itu nyaris tak terawat dengan baik dan tetutup semak belukar. makam tadi menarik perhatian keluarga Diponegoro yang ada di Yogyakarta. " Setiap kali datang kesini, mereka selalu menyempatkan diri berziarah ke makam Buyud Sayid" info Abdul Rasyid mantan kepala penjaga asta tinggi.
Pada nisan kepala makam itu setelah diteliti lebih jauh, ditemukan ada tulisan arab pegon yang berbunyi " Abdul Hamid Pangeran Diponegoro ". sedangkan di nisan kakinya tertulis " Ontowiryo Amirul Mu’minin Panotogomo Sido Mukti Ing Topo 12-3-1837"
Pada nisan kaki Dipokusumo tertulis " Wafat bada Dipokusumo Khalifah Syayidin akhira bik olle gante a sareng M. Ali Amwali 11-8-30 (1830) " artinya " Wafatnya Dipokusumo pemimpin terakhir, telah diganti dengan M Ali Amwali 11-8-1830 ". sedangkan di nisan kepala tertulis "Bada kobur almarhum Khalifah Dipokusumo Syayidin jaman 12-4-38". maksudnya " ada makam almarhum Khalifah Dipokusumo pemimpin terakhir, zaman 12-4-1838". Dipokusumo diangkat sebagai pemimpin sepeninggal Diponegoro.
Terdapat banyak prasasti yang memperkuat temuan bahwa Diponegoro pernah berada dan wafat di Madura. terlebih lagi dengan ditemukannya makam Pasukan Panah Wanita pimpinan RA. Yuda Negara, saudara Diponegoro lain ibu dengan 107 anggota pasukan wanita lainnya. Pasukan inti Diponegoro, Turkijo, Bulkijo, Arkijo dan Bupati Semarang Adipati Pringgoloyo beserta pengikutnya juga ditemukan makamnya di Asta Tinggi.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar Asal Jaga Kesopanan Religi

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda